oleh

Waspada Gelombang TKI ke Timur Tengah dan Kerajaan Arab Saudi, DPP AP2TKI Gelar Sosialisasi Edukatif

JAKARTA, MEDIATIMOR.com– Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Asosiasi Pengelola Pelatihan Tenaga Kerja Indonesia (AP2TKI) menggelar kegiatan edukatif berupa Sosialisasi Persiapan Penempatan TKI ke Timur Tengah dan Kerajaan Arab Saudi melalui Sistem Penempatan Satu Kanal, Kamis (17/11/2022).

Kegiatan edukatif tersebut memiliki beberapa alasan mendasar bagi masyarakat agar dapat memahami, mencegah dan memeberantas masalah perdaganagn manusia (human trafficking) di tengah kebijakan pemerintah yang membali membuka kran penempatan TKI ke luar negeri.

Beberapa alasan mendasar tersebut yakni;

Pertama, mayoritas masyarakat tidak mengetahui kalau mereka bisa terlibat dalam aktivitas human trafficking, baik sebagai pelaku atau korban.

Kedua, masyarakat belum mengetahui bahwa pemerintah Indonesia memiliki Undang-Undang Tindak Pidana Perdagangan Orang (UU TPPO).

Ketiga, masyarakat tidak mengetahui hak-hak dasar yang mereka miliki selaku buruh migran seperti kontrak kerja, upah minimum, durasi kerja, dan siapa yang mesti dihubungi ketika terjadi masalah.

Kebijakan Penempatan Kerja ke Luar Negeri

Kembali dibukanya penempatan Pekerja Migran Indonesia (PMI) ke Negara-negara Timur Tengah dan Kerajaan Saudi Arabia melalui Sistem Penempatan Satu Kanal merupakan peluang sekaligus ujian bagi Calon Pekerja Migran Indonesia (CPMI), Perusahaan Pengerah Pekerja Migran Indonesia (P3MI), Balai Latihan Kerja Luar Negeri/Lembaga Pelatihan Kerja (BLK LN/LPK) dan Layanan Terpadu Satu Atap (LTSA) untuk mematuhi UU Nomor 18 Tahun 2017 tentang Pelindungan Pekerja Indonesia dan aturan turunannya.

Peristiwa laten yang rentan human trafficking yakni penempatan CPMI tanpa dibekali kompetensi dan kapasitas di BLK LN/LPK dan hanya bermodalkan secarik kertas sertifikat sehingga “memudahkan” BLK LN/LPK nakal yang kongkalikong dengan P3MI bahkan melibatkan Oknum Pejabat di Kementerian dan Lembaga.

Salah satu Instruktur regio NTT, Gabriel Goa, mengapresiasi terobosan yang diinisiasi oleh DPP AP2TKI yang dipimpin Hj Lolynda Usman, S.E., S.H.

Menurut Gabriel, AP2TKI telah melakukan pelatihan Gelombang Pertama mempersiapkan Instruktur BLK LN/LPK sebanyak 500 Instruktur untuk melatih di BLK LN/LPK.

Selain itu, lanjut Gabriel, AP2TKI melakukan kerjasama dengan P3MI yang tergabung dalam organisasi APJATI, mensosialisasikan persiapan Pelaksanaan Pelatihan Kawasan Timur Tengah dan Kerajaan Saudi Arabia pada BLK LN/LPK yang tergabung dalam AP2TKI; mengacu pada Sistem Penempatan Satu Kanal (SPSK) sehingga bisa dikontrol dan mencegah praktek kongkalikong jual beli sertifikat tanpa pelatihan Kompetensi dan Kapasitas sesuai amanat UU Nomor 18 Tahun 2017 tentang Pelindungan Pekerja Migran Indonesia dan aturan turunannya berkaitan dengan Pelatihan Kompetensi dan Kapasitas.

Terobosan lain AP2TKI yakni adanya Program terbentuknya DPD AP2TKI di wilayah Indonesia Timur, khususnya kantong-kantong Migrasi Illegal yang rentan Human Trafficking agar segera dibangun BLK LN/LPK untuk mempersiapkan kompetensi dan kapasitas Calon Pekerja Migran Indonesia ke Luar Negeri.

“Ke depan, diharapkan Indonesia akan melebihi Philipina jika Pemerintah dan P3MI mendukung total dan bekerjasama mempersiapkan CPMI melalui BLK LN/LPK anggota AP2TKI karena terjamin kualitasnya bukan abal-abal hanya bermodalkan jual beli sertifikat Kompetensi dan Kapasitas tanpa ketrampilan apa-apa yang berdampak pada PMI sendiri yang akan bermasalah dengan pengguna jasa kerja PMI di Luar Negeri. Jika terjadi kasus seperti yang saya gambarkan di atas, maka tindak tegas dan proses hukum,” harap Ketua DPP AP2TKI, Hj Lolynda Usman yang juga Ketua Bidang Pelatihan APJATI.

Gabriel Goa sangat mendukung gebrakan DPP AP2TKI di bawah kepemimpinan Hj Lolynda Usman dan Faisal Sondeng untuk mempersiapkan SDM handal Pekerja Migran Indonesia yang diperebutkan di bursa pasar kerja internasional kompetitor dengan Pekerja Migran asal Philipina dan India.

“Diharapkan agar ke depan NTT juga menjadi pilot program DPP AP2TKI untuk segera menyiapkan SDM Pekerja Migran asal NTT go internasional yang memiliki kompetensi dan kapasitas dilatih di BLK LN/LPK yang profesional dan prosedural melalui LTSA guna mencegah jaringan mafiosi Human Trafficking. Stop Human Trafficking dan mulailah Migrasi Aman!” seru Gabriel yang konsen terhadap gerakan Anti Human Trafficking.

Komentar