oleh

Ketika Jokowi di ENDE

Oleh: Ignas Iryanto*

 

OPINI, MediaTimor.com– Ketika menulis artikel sebulan yang lalu dengan judul “Selamat Datang di Kota Ende, Pakde Jokowi”, saya sebenarnya tidak yakin bahwa Presiden Joko Widodo (Jokowi) akan datang ke Ende.

Namun kini, melihat berbagai rekaman kedatangan Beliau di Ende dan beragam reaksi masyarakat Ende yang cenderug histeris karena bahagia, saya hanya mampu bersyukur dan berterima kasih tak terhingga kepada Pakde Jokowi.

Bahkan hingga hari ini masih beredar berbagai video yang menunjukkan kebahagiaan masyarakat Ende menyambut Presiden yang mencintai dan dicintai rakyatnya itu.

Video terakhir yang Penulis sempat lihat yakni tangisan Rahel, seorang siswi Kelas VI Sekolah Dasar (SD) Santa Ursula Ende, yang tidak sempat bertemu Presiden Jokowi untuk menyerahkan surat yang sudah ditulisnya sendiri.

Tentu makna kunjungan ini tidak bisa lepas dari Pancasila itu sendiri. Kota Ende bukan apa-apa dalam sejarah bangsa, tanpa kehadiran Bung Karno sejak tahun 1934 hingga 1938, dan menjadi semakin penting karena pengakuan Bung Karno sendiri bahwa di sana, di bawah pohon sukun di tepi pantai Ende, Beliau memulai merenungkan dasar negara yang akan dibangun kelak dan terinspirasi dari nilai-nilai luhur Nusantara yang juga nampak di Ende saat itu.

Sesungguhnya Bung Karno belum merumuskannya, namun pemikiran akan nilai-nilai dasar itu distimulasi dari interaksinya dengan berbagai kelompok msyarakat di Ende.

Sistem Nilai Tradisional Masyarakat Ende-Lio

Apakah memang ada sistem nilai Ende-Lio yang sejalan dengan butir-butir permenungan Bung Karno yang akhirnya dirumuskan sebagai Pancasila?

Sistem nilai masyarakat tradisional biasanya diungkapkan dalam berbagai ungkapan adat yang diyakini dan diwariskan secara turun temurun secara lisan.

Memahami konteks ungkapan tradisional masyarakat Ende-Lio, sebagaimana juga ada dan melekat di masyarakat adat seluruh Nusantara, tentu terdapat keyakinan akan nilai-nilai luhur di balik ungkapan m-ungkapan itu.

Dalam konteks Lima nilai (Sila) Pancasila, Masyarakat Ende-Lio memiliki ungkapan adat yang sepadan;

Pertama:Duá gheta Luluwula Nggaé ghale wena tana” merupakan ungkapan lengkap dari Duá Nggaé (Tuhan) dalam sebutan Ende-Lio. Ini inline dengan inti dari Sila Pertama: Ketuhanan yang Maha Esa.

Kedua:Ria tau dari Nia, Bewa tau pase laé, aji jië jië ka’e pawe” (dibesarkan untuk menjadi teladan sebagai penerus dan penjaga tatanan adat dan hiduplah yang rukun bagai saudara kandung).

Ketiga:Sa boka sa ate; boka ngere ki, bere ngere ae” (sehati sejiwa; jatuh bersama seperti alang-alang, maju bersama seperti air mengalir).

Keempat:Timba tato ma’e wilo walo, mbabho gajo ma’e gilo galo” (timbang perkara jangan ragu-ragu, musyawarah jangan akal-akalan/bersikap licik).

Kelima:Tipo gao muri fai walu ana kalo, bhondo salo’o, mbilu sa biu” (topanglah hidup yang lemah, yang banyak mendapat sedikit, yang kurang mendapat banyak).

Inilah lima nilai tradisional msyarakat Ende-Lio yang secara berurutan inline dengan lima nilai dari Pancasila.

Tentu saja, tidak ada bukti tertulis bahwa Bung Karno terinspirasi dari lima sistem nilai tersebut, juga tidak ada catatan Bung Karno berinteraksi dengan para tua adat di masa pengasingannya. Sangat mungkin, Beliau terinspirasi selama interaksi yang inklusif dengan masyarakat Ende, yang dari dulu sudah sangat plural.

Lewat kelompok tonil Kelimutu, Bung Karno beinteraksi dengan para pemuda Muslim Ende; di Biara Santo Yosef, Bung Karno berinteraksi dengan para Rohaniwan Katolik (kini ruang tempat beliau sering membaca buku atau berdiskusi engan para pastor dijadikan Museum dengan nama Serambi Bung Karno dan sempat dikunjungi oleh Presiden Jokowi); juga dalam beberapa kunjungan Bung Karno ke Ndao, Beliau berinteraksi dengan pra pelajar di Ende.

Dalam tuturan lisan dari Pak Frans Sedayang (penulis dengar langsung), pertemuan bapak Frans dengan Bung Karno pertama kalinya terjadi di Ndao ketika Beliau bersekolah di situ. Bung Karno tidak diijinkan masuk ke dalam sekolah sehingga murid-murid yang keluar dan menyambut Beliau di pintu sekolah. Kala itu, Pak Frans membaca sebuah puisi dalam Bahasa Belanda.

Ketika puluhan tahun kemudian, Pak Frans diangkat menjadi Menteri Perkebunan oleh Bung Karno sekembalinya dari Tilburg (Belanda). Bung Karno masih ingat kejadian itu bahkan masih ingat puisi yang Pak Frans bacakan ketika itu.

Bung Karno juga tercatat sering Sholat di Masjid yang terletak di kampung Radja, yang sampai sekarang masih berdiri kokoh bahkan makin asri. Paling tidak, dari interaksi, keseharian dan pengalaman perjumpaan itu, menunjukkan bahwa pernyataan Bung Karno bahwa Pancasila bukan ciptaan Beliau dan Beliau hanya menggalinya dari nilai-nilai yang sudah ada di bumi Nusantara. Ini adalah valid; bukan hanya di Ende namun mestinya di seluruh suku-suku Nusantara ini.

Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) mestinya bisa menjadikan ini satu program kerjanya; menggali sistem nilai di seluruh suku Nusantara yang inline dengan sistem nilai Pancasila. Dengan itu menunjukkan bahwa kesetiaan kita pada Pancasila adalah kesetiaan kita pada sistem nilai para leleuhur kita sejak dahulu kala, dan bukan sekadar kesetiaan pada suatu produk politik negara. Ini adalah usul penulis kepada BPIP.

Bung Karno dan Jokowi

Pakde Jokowi sekali lagi menunjukkan keunikannya sebagai Presiden; menjadi Presiden kedua setelah Bung Karno yang memasuki Kota Ende sebagai Presiden.
Bung Karno berada di Ende sebagai buangan politik sejak 1934 hingga 1938 dan mengunjungi Ende sebagai Presiden pada tahun 1950 dan tahun 1954.

Pakde Jokowi mengunjungi Ende sebagai Presiden pada tahun 2022 saat memimpin Upacara Peringatan Hari Lahir Pancasila, 1 Juni 2022. Sebelumnya, Pakde Jokowi sempat diundang oleh Ikatan Alumni Syuradikara Nusantara (IASN) untuk mengunjungi Ende saat menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta, namun batal walaupun sebelumnya beliau sudah menyatakan kesediaannya ketika ditemui oleh pengurus IASN di kantornya menjelang HUT ke-60 SMAK SYURADIKARA Ende pada September 2013.

Bagi masyarakat Ende, kunjungan Presiden Jokowi merupakan kenangan bersejarah abadi yang dikisahkan berulang kali dari genersi ke generasi. Dalam kurun waktu antara tahun 1934 hingga 1938 Bung Karno hidup secara inklusif di Ende, menyatu dengan masyarakat Ende dari berbagai kalangan dan karenanya mampu menyerap sistem nilai yang hidup di tengah masyarakat dan terinspirasi olehnya, sehingga dalam permenungan yang dalam di bawah pohon sukun di tepi pantai Ende, Bung Karno meyakini bahwa sistem nilai tersebut bukan hanya ada di tengah masyarakat Ende, namun juga hidup di seluruh masyarakat Nusantara (tokoh sebelumnya beliau sempat hidup di Muntilan-Jateng, Surabaya-Jatim dan Bandung-Jabar); dan karena itu cocok menjadi pandangan hidup bangsa serta dasar negara yang akan dibangun dan merdeka.

Pada akhirnya, dalam pidato 1 Juni 1945, oleh Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPPKI) dirumuskan dan diberi nama Pancasila; dan teksnya ada di ayat 4 Mukadimah UUD 1945 dan disahkan pada tanggal 18 Agustus 1945.

Presiden Jokowi hanya dua hari hadir dan berada di Ende, namun menunjukkan secara konkrit batapa inklusifnya sifat interaksi Beliau dengan masyarakat. Tanpa ragu Beliau berhenti, turun dari mobil dan menyalami masyarakat di jalan, bahkan rela keluar dari hotel tempat penginapan dan memasuki gang sempit di dekatnya untuk menemui masyarakat hingga masuk ke dalam rumah masyarakat yang tampak sangat sederhana. Interaksi yang tanpa batas, jauh dari sikap gengsi dan menjaga wibawa versi Presiden-Presiden terdahulu.

Bagi masyarakat Ende, kenangan abadi tentang Bung Karno dan Pakde Jokowi merupakan kenangan akan tokoh bangsa yang inklusif, yang secara genuine mencintai rakyatnya. Disanalah letak kesamaan kenangan abadi akan dua tokoh bangsa itu.

Dalam interaksi yang inklusif, Bung Karno menyerap sistem nilai yang kemudian dirumuskan sebagai Pancasila. Sementara itu, dalam interaksi yang inklusif, Pakde Jokowi menunjukkan bagaimana nilai-nilai itu hidup dan menjadi nyata, tidak lagi menjadi sesuatu yang abstrak.

Menonton berbagai video yang viral, baik di Ende, Bajawa maupun di Sumba, membuat saya terkenang pengalaman generasi kami ketika harus menyambut datangnya pejabat dari Jakarta (pemerintah pusat) di masa Orde Baru. Sejak pagi hari sudah siap dengan seragam sekolah, memegang bendera kecil dan berbaris membentuk pagar betis di sepanjang jalan yang akan dilewati. Dari sekolah sudah berbaris rapih menuju ke lokasi tersebut dan berdiri di sana kepanasan berjam-jam sebelumnya, hanya untuk melihat mobil pejabat itu lewat beberapa detik saja di depan kami. Sangat sulit untuk melihat wajahnya apalagi untuk bersalaman, atau menyapa. Tidak akan pernah ada kenangan abadi atas kunjungan model eksklusif seperti itu.

Rakyat Indonesia dari Sabang hingga Merauke, dari Rote hingga Miangas, tahu bahwa yang seperti itu tidak hanya terjadi di NTT, namun terjadi di hampir semua daerah di setiap agenda kunjungan Pakde Jokowi. Inklusif adalah karakter genuine Pak Jokowi dan bukan kamuflase kepribadian demi pencitraan, konotasi minus yang selalu dituduhkan oleh berbagai kelompok oposisi nyinyir.

Rakyat jelas mencintai Jokowi secara genuine karena Jokowi mencintai rakyatnya secara genuine. Itulah sebabnya banyak yang bekerja secara sukarela di berbagai forum untuk membela Jokowi tanpa harus dibayar. Hal yang mungkin dianggap mustahil oleh seorang Politisi PDI Perjuangan, yang menolak menerima kenyataan bahwa ada relawan yang mau bekerja untuk politisi yang dicintainya tanpa dibayar.

Saya bukan tidak punya catatan kritis atas rangkaian perjalanan kunjungan Presiden Jokowi ke NTT (Ende, Ngada, Sumba Timur), khususnya selama di Ende. Namun saya juga tidak mau mengurangi euforia masyarakat saat menyambut kedatangan Presiden Jokowi dan kebahagian genuine masyarakat Ende selama dua hari keberadaan Jokowi di Ende; yang dihayati sebagai jelmaan Bung Karno masa kini.

Jika Jokowi sekali lagi mengunjungi Ende, saya akan menyampaikan pemikiran saya kepada pimpinan daerah di Ende sebelum kunjungan Jokowi.

Ketika menyelesaikan tulisan ini, saya mendengar Bupati Ende, Ka’e (Kakak, red) Djafar, dipanggil Bapak Presiden ke Istana Negara.

Sekilas, pengalaman Jokowi selama menyusuri jalan dan lorong-lorong di Ende, tentu Beliau sudah melihat hal-hal urgen yang segera harus diperbaiki dan semoga beliau akan memberikan arahan dan juga bantuan konkrit untuk memperbaiki hal-hal urgen tersebut. Insya Alloh.

Pertanyaan utama kini yakni; apa tindak lanjut konkrit masyarakat Ende setelah kunjungan Presiden Jokowi ini? apa pesan konkrit Bapak Presiden Jokowi kepada msyarakat Ende bahkan masyarakat Indonesia dari Ende dalam kunjungan ini?

Mengamalkan Pancasila

Dalam pidato resminya, pesan inti dari Presiden Jokowi adalah pentingnya untuk membumikan Pancasila, merealisasikan/mengaktualisasikan Pancasila dalam hidup sehari-hari, dalam bingkai hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

Hemat Penulis, sesungguhnya itulah hal terpenting dari setiap sistem nilai yang dianut. Dalam beragama, tidak penting menghafal Kitab Suci juga menghafal setiap ritus dan doa, namun mengamalkan ajaran agama dalam kehidupan pemeluknya adalah ibadah tertinggi. Demikian pula dalam suatu organisasi, tidak penting menghafalkan kode etik dari organisasi tersebut, tidak penting menghafal corporate value dari suatu korporasi, namun bagaimana kode etik dan corporate value itu menjadi nyata dalam paktek organisasi atau korporasi tersebut.

Umat Kristen yang menjadi mayoritas di NTT, mestinya tidak lupa akan ayat dalam Kitab Suci: “iman tanpa perbuatan adalah mati” atau dalam ayat yang lain: “aku akan tunjukkan imanku lewat perbuatanku namun bagaimana kamu tunjukkan imanmu tanpa perbuatan.”

Bahwasannya, tidak ada ayat “iman tanpa hafalan Alkitab adalah mati atau iman tanpa ritus adalah mati.”

Pesan Presiden Jokowi tentu sejalan dengan hal ini. Tidak penting menghafal Pancasila; tidak bermakna berbangga bahwa Ende adalah Rahim Kelahiran Pancasila, jika Pancasila tidak nampak dalam hidup warganya. Ada trend di tahun-tahun terakhir ketika orang meneriakan yelyel: “Aku Indonesia, Aku Pancasila. So what? Yelyel itu tanpa makna jika dana yang menjadi hak rakyat miskin masih dikorupsi di negeri ini. Tidak bermakna jika kepentingan oligarki politik yang berkolaborasi dengan korporasi besar terus mengorbankan hak-hak rakyat.

Mungkin banyak yang belum tahu bahwa jumlah Tenaga Kerja Indonesia (TKI) illegal yang meninggal di luar negeri paling banyak berasal dari Ende (NTT). Para pemimpin Ende seyogyanya menjadikan hal ini top priority untuk diatasi. Jika tidak, hambar saja kebanggaan sebagai penduduk dari daerah yang menjadi rahimnya Pancasila. Begitu juga beberapa masalah lain seperti tingginya angka stunting di NTT, termasuk di Ende.

Dalam konteks bernegara, masyarakat Ende sudah selayaknya menjadi garda paling depan yang loyal Pancasila dan menentang secara tegas berbagai ideologi asing; entah itu komunisme, neo-liberalisme, neo-kolonialisme maupun radikalisme agama dalam bentuk Khilafah. Dengan itu, kebanggaan menjadi warga dari kota yang menjadi rahimnya Pancasila menjadi bermakna.

Pada momentum yang sama tanggal 1 Juni 2022 di Jakarta, dua Ketua Umum (Ketum) Parti: Surya Paloh (Ketum Partai NasDem) dan Prabowo Subianto (Ketum Partai Gerindra) menegaskan bahwa partainya akan konsisten menolak politik identitas. Semoga kedua pemimpin ini konsisten dengan pernyataannya pada momentum bersejarah Peringatan Hari Lahir Pancasila dan tidak akan membuka peluang digunakannya politik identitas (jualan agama/ayat secara diskriminatif dan sangat tidak beradab) dalam langkah-langkah politiknya, termasuk dalam proses pencalonan Presiden nanti. Rakyat akan jadi korban jika itu terjadi lagi!!

Sebelum menutup tulisan ini, saya memberanikan diri untuk mengusulkan lagi suatu hal. Perayaan Peringatan Hari Lahir Pancasila sudah dilakukan di luar Jakarta, dalam hal ini di Ende dengan pertimbangan historis.

Apakah mungkin, peringatan Hari Besar lainnya juga dilakukan di luar Ibukota Negara dengan alasan historis?
Peringatan Hari Kartini dilakukan di Jepara; Peringatan Hari Pendidikan Nasional dilakukan di Jogyakarta sebagai pusat taman siswa yang didirikan oleh Ki Hadjar Dewantara; bahkan sesekali Hari Proklamasi dilakukan di Rengas Dengklok; Hari Pahlawan digelar di Surabaya dan juga di kota-kota lain dengan tokoh pahlawan nasional yang legendaris.

Dengan itu, refeleksi historis pada momentum peringatan Hari Besar itu akan lebih membumi dan generasi muda pun secara konkrit belajar sejarah bangsanya. Semoga bisa dipertimbangkan.

* Penulis adalah salah satu Tokoh NTT Diaspora, Putera Ende-Lio, tinggal di Jakarta.

Komentar