oleh

Pasar Wolowaru Hari Sabtu Semakin Sepi, Pelaku Pasar: Kami Ingin Pasar Kembali ke Hari Jumat

ENDE, MediaTimor.com– Suasana Pasar Wolowaru, Kecamatan Wolowaru, Kabupaten Ende, Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT) tidak terjadi sebagaimana mestinya, yang selalu dipadati oleh para pelaku pasar; baik yang berasal dari daerah di sekitar wilayah Kecamatan Wolowaru maupun dari daerah Kecamatan lain, bahkan dari Kabupaten tetangga (Sikka, red).

Diakui beberapa pelaku pasar yang ditemui media ini, Sabtu (21/5/2022) pagi, salah satu alasan perubahan suasana Pasar Wolowaru selama beberapa bulan terakhir yang semakin sepi, yakni perubahan jadwal Pasar yang sebelumnya berlaku setiap Hari Jumat, kini bergeser ke Hari Sabtu.

“Sekarang sudah beda (pasar Hari Sabtu, red). Berbeda ketika pasar Hari Jumat, jualan kami lumayan laku karena ada banyak pembeli yang memborong jualan kami lalu dipasarkan kembali (misalnya ke Watuneso atau Lekebai),” ungkap Mama Eta, penjual sayur-mayur dari daerah Nduaria, Kecamatan Kelimutu.

“Kalau pasar Hari Jumat, hasil jualan bisa mencapai Rp 300.000-Rp 400.000, tapi sekarang untuk laku Rp 100.000 saja sangat susah,” tambah Mama Asi, yang juga penjual sayur-mayur dari daerah Nduaria.

Keluhan senada diungkapkan Mama Siti Nur dari Kelurahan Bokasape.

“Tolong kami, Pak. Kami rasakan benar, beda antara pasar Hari Sabtu dengan sebelumnya Hari Jumat. Sekarang sangat sepi, beda kalau pasar Hari Jumat, penjual dan pembeli sangat padat. Sekarang jualan kami juga sangat sepi pembeli,” kata Mama Siti Nur.

Menurut Mama Siti Nur, soal salah satu alasan pasar berubah ke Hari Sabtu karena Hari Jumat ada kegiatan Sholat Jumat, hal itu (Sholat, red) bisa dilakukan di rumah, sehingga tidak mengganggu aktivitas pasar.

“Kan Sholat Lima Waktu, bisa di rumah selain di Masjid. Karena pelaku pasar juga datang dari berbagai latar belakang keyakinan (Agama) selain kaum Muslim dan Muslimat. Tolong pikirkan juga dengan kebutuhan (jualan) kami. Kami mau pasar Wolowaru kembali ke Hari Jumat,” harap Mama Siti Nur.

Keluhan serupa datang dari Mama Veronika yang mengaku memanfaatkan keuntungan dari usaha warung kopi di lokasi pasar Wolowaru.

“Kalau bisa pasar kembali ke Hari Jumat. Pengalaman saat pasar Hari Sabtu, sangat sepi dan pendapatan kami menurun drastis. Bahkan untuk memenuhi kebutuhan harian termasuk biaya sekolah anak, sangat sulit. Apalagi saya ini seorang janda, harus berjuang sendiri,” tutur mama Veronika.

“Pak bisa lihat sendiri jualan saya. Sebelumnya, kalau pasar Hari Jumat, tiga ember ini habis terjual. Sekarang, hanya setengah ember yang terjual. Kalau bisa pasar kembali ke Hari Jumat,” harap Mene, penjual tahu-tempe dari Desa Nakambara.

Keluhan yang sama diutarakan salah seorang Padagang Kaki Lima (PKL), Madin Castello.

“Kami sungguh rasakan dampak dari perubahan jadwal Hari Pasar Wolowaru. Tidak seperti biasanya saat Pasar Hari Jumat; banyak pembeli sehingga penghasilan lumayan. Sekarang sangat menurun. Kami sangat berharap agar Pasar Wolowaru kembali ke Hari Jumat,” harap Madin.

Madin beralasan, jadwal Pasar Hari Sabtu selain di Wolowaru, juga terjadi di Watuneso, Lekebai, Detusoko, dan Tendaleo.

“Sebagai pelaku pasar, kami jadi dilema dengan jadwal Hari Pasar yang sama di beberapa tempat. Kalau kembali ke Hari Jumat, maka saya yakin Pasar Wolowaru akan kembali ramai dan padat,” yakin Madin sembari berharap ada respon baik dari pihak Lurah Bokasape maupun Penjabat (Pj) Camat Wolowaru.

Saat berita ini diturunkan, media ini sedang mengkonfirmasi pihak Lurah Bokasape maupun Pj. Camat Wolowaru untuk dimintai respon atas keluhan-keluhan pelaku Pasar Wolowaru.

Komentar