oleh

Selamat Datang ke Kota Pancasila Ende, Pakde Jokowi!

Oleh: Ignas Iryanto*

 

OPINI, MediaTimor.com– Masyarakat Kabupaten Ende, Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT) sedang menanti kedatangan Presiden Joko Widodo (Jokowi) untuk merayakan Hari Kelahiran Pancasila, 1 Juni 2022 di Kota Pancasila itu.

Jika Presiden Jokowi benar datang ke Ende, maka Jokowi adalah Presiden kedua yang memasuki kota Ende setelah Presiden pertama sekaligus Proklamator, yaitu Presiden Soekarno.

Presiden lainnya setelah Soekarno maupun sebelum Jokowi, mungkin ke NTT bahkan ke wilayah Ende dan mengunjungi Taman Wisata Nasional Danau Kelimutu, namun tidak satupun yang benar-benar memasuki Kota Ende.

Hal ini tentu menimbulkan banyak rumor soal alasannya. Saya berharap Presiden Jokowi mengunjungi Kota Ende kali ini, tidak dikarenakan adanya narasi yang disebarkan oleh Dosen Filsafat, Rocky Gerung (RG) tentang pemahamannya atas Pancasila.

Sesungguhnya, saya telah meminta beberapa senior untuk memberikan narasi alternatif sebagai penyeimbang, agar generasi muda memiliki pilihan pemahaman kritis-rasional dan tidak hanya disodorkan dengan narasi oleh Rocky Gerung.

Rocky Gerung sekali lagi menebar narasi yang dapat dikategorikan sebagai bahaya laten bagi generasi muda kita. Bahkan narasi tersebut dapat masuk ke dalam pikiran generasi muda dan mempengaruhi cara berpikir mereka atas Pancasila yang telah menjadi nilai dan ideologi, yang telah disepakati dan diterima oleh para pendahulu kita untuk membentuk Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Narasi Rocky Gerung yang dapat menjadi bahaya laten apabila diterima mentah-mentah oleh generasi muda tanpa adanya pembanding, yakni melalui beberapa pernyataan kontradiktif berikut;

Pertama, pernyataan Rocky Gerung bahwa suatu negara tidak memiliki sebuah ideologi, yang memiliki ideologi adalah personal.

Kedua, pernyataan Rocky Gerung bahwa Pancasila bukanlah sebuah ideologi, hanya di masa Jokowi ini Pancasila disebut sebagai ideologi, karena Jokowi tidak mengerti sedikitpun soal ini.

Ketiga, pernyataan Rocky Gerung bahwa Soekarno menyebut Pancasila sebagai Philosophische Grundlag; Soeharto menyebutnya sebagai azas, bahkan azas tunggal negara, mereka tidak pernah mengatakan Pancasila sebagai ideologi negara.

Narasi Kontradiktif dan Narasi Alternatif

Menurut penulis, narasi Rocky Gerung tersebut adalah lemah dan berbahaya jika dipahami setengah-setengah oleh seluruh rakyat Indonesia, khususnya generasi muda yang merupakan penerus, pewaris bahkan pemimpin dari Bangsa yang besar ini.

Oleh karena itu, sebagai salah satu rakyat Indonesia yang cinta akan Negara Kesatuan Republik Indonesia, Penulis merasa berkewajiban untuk memberikan narasi alternatif bagi seluruh rakyat Indonesia;

Pertama, pernyataan Rocky Gerung bahwa ideologi negara itu ada di fasism dan komunis, jelas kontradiktif dengan statement Rocky Gerung yang mengatakan bahwa tidak ada negara yang memiliki ideologi, hanya personal yang memiliki ideologi.

Jika Rocky Gerung mengatakan ada negara yang memiliki ideologi minimal fasism dan komunis, nyatanya ideologi yang berkembang di dunia internasional bukan hanya kedua ideologi tersebut.

Seperti yang kita ketahui, kapitalisme dan liberalisme juga merupakan ideologi yang dianut oleh dunia internasional. Jika tidak ada kedua ideologi tersebut, kita tidak akan terus-menerus menyebut Negara Barat sebagai negara kapitalis (Rocky Gerung juga sering mengatakan ini).

Negara Blok Barat umumnya menganut ideologi kapitalis, dan Negara Blok Timur pada umumnya menganut ideologi komunis. Masa perang dingin, setelah perang dunia kedua kita sebut masa perang ideologi. Ideologi sosialisme dengan ekstrimnya komunisme, ‘berperang’ melawan kapitalisme dengan ekstrimnya free fight liberalisme.

Oleh karena itu, negara jelas menganut sebuah ideologi, dan pernyataan Rocky Gerung pada poin pertama gugur dengan sendirinya dikarenakan kontradiksi dengan pernyataannya sendiri.

Kedua, pernyataan Rocky Gerung yang mengatakan bahwa hanya Jokowi yang menyebutkan Pancasila sebagai ideologi negara, juga merupakan pernyataan yang kontradiktif dengan narasinya terkait penyebutan Presiden Soekarno maupun Presiden Soeharto atas Pancasila.

Presiden Soekarno mengatakan Pancasila adalah Philosophische Grundslag, juga kadang dipakai istilah Welt Anschauwung, kita akan lihat saberapa jauh perbedaannya dengan pengertian ideologi.

Walaupun kedua Presiden kita (Soekarno dan Soeharto) tidak pernah mengatakan Pancasila adalah ideologi, namun selama masa pemerintahan mereka, kedua Presiden tersebut terbukti melakukan segala hal dalam upaya mempertahankan Pancasila yang dihadapkan dengan idologi-ideologi besar di dunia.

Masa pemerintahan Presiden Soekarno, Pancasila dihadapkan dengan Liberalisme dan Kapitalisme, yang bahkan oleh Presiden Soekarno dijabarkan dan dikemukakan dengan istilah neo-kapitalisme dan neo-liberalisme; kedua istilah tersebut bahkan masih digunakan hingga saat ini oleh dunia internasional.

Presiden Soekarno menolak kedua paham (ideologi) tersebut dan mengatakan pilihan Republik Indonesia yang terbaik adalah Pancasila. Katakan, jika Rocky Gerung benar, Presiden Soekarno tidak penah mengatakan Pancasila adalah ideologi. Nyatanya, Presiden Soekarno menentang ideologi Kapitalisme dan Liberalisme dengan mendorong alternatif Pancasila. Ini adalah bukti bahwa oleh Presiden Soekarno, Pancasila disejajarkan dengan ideologi-ideologi tersebut.

Logikanya, bagaimana menolak sebuah ideologi negara tanpa menganut alternatif ideologi lainnya?

Masa pemerintahan Presiden Soeharto sudah menjadi rahasia umum, bahkan menjadi peringatan setiap tahunnya; Pancasila dihadapkan dengan ideologi Komunisme.

Terbentuknya lembaga seperti Badan Pembinaan Pendidikan Pelaksanaan Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila (BP7) merupakan salah satu langkah Presiden Soeharto mendorong dan mempertahankan Pancasila sebagai satu-satunya pilihan untuk mengeluarkan program Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila (P4).

Kedua Presiden kita, baik Soekarno maupun Soeharto yang disebutkan oleh Rocky Gerung, jelas membandingkan dan menempatkan Pancasila sejajar dengan ideologi-ideologi besar di dunia. Oleh karenanya, Pancasila jelas merupakan sebuah ideologi alternatif yang hingga saat ini dianut oleh Negara Kesatuan Republik Indonesia dan merupakan pilihan terbaik kita dalam mempertahankan kesatuan negara ini. Di mana susahnya pengertian ini diterima?

Masa kini (masa Presiden Jokowi), kita berhadapan dengan kelompok yang menyandang radikalisme agama dengan salah satu tujuannya mengubah Negara Indonesia untuk diatur dengan hukum agama yang selalu diidentikkan dengan nama Khilafah.

Apakah ini ideologi atau bukan, terserah pendapat orang-orang pintar seperti Rocky Gerung. Yang jelas, bagi kita yang “dungu” ini, kembali terdapat upaya nyata dari sekelompok orang untuk menggantikan Pancasila, dan akan kita tolak sampai kapan pun. Itu sikap kita sampai kapan pun.

Referensi Histori

Selain ketiga pernyataan Rocky Gerung di atas yang telah Penulis sampaikan tanggapannya, pernyataan lainnya yang jelas sekali merupakan sebuah proses inseminasi ide atau penanaman ide kepada generasi berikutnya, yakni pernyataan Rocky Gerung yang pada dasarnya menyebutkan bahwa tidak benar Pancasila tidak dapat diubah dikarenakan tidak dilarang.

Menurut Rocky Gerung, yang tidak dapat diubah adalah bentuk negara yaitu bentuk Negara Republik. Jadi, menurut Rocky Gerung, sah saja jika ada gerakan yang ingin mengganti Pancasila dengan paham lainnya, termasuk paham Khilafah.

Sebagaimana telah disebutkan oleh Rocky Gerung dalam pernyataannya sebelumnya, Presiden Soekarno memang mengatakan bahwa Pancasila adalah Philosophische Grundlag, maka Penulis akan menjelaskan maksud pernyataan tersebut.

Bangsa Indonesia, setiap tahun memperingati Hari Kelahiran Pancasila setiap tanggal 1 Juni, dan memperingati Hari Kesaktian Pancasila setiap tanggal 1 Oktober.

Referensi histori dari “kelahiran” Pancasila pun dapat kita temukan dalam bentuk sumber kepustakaan maupun media elektronik visual yang berkembang pesat saat ini. Namun, terkadang kita sering lupa untuk menelaah tidak hanya dari sisi “seremonial” perayaan kelahirannya, tetapi selayaknya kita perlu juga untuk memahami secara lebih komprehensif mengenai kedudukan Pancasila. Bahkan, mungkin di antara kita masih berpendapat bahwa Pancasila hanya merupakan sebuah ideologi negara. Apakah pendapat ini sudah tepat?

Presiden Soekarno menyebut Pancasila sebagai Philosopische Grundslag atau pandangan dasar hidup bangsa Indonesia. Oleh karena itu, Pancasila memiliki dua kepentingan, yaitu:

Pertama, Pancasila diharapkan senantiasa menjadi pedoman dan petunjuk dalam menjalani keseharian hidup manusia Indonesia, baik dalam berkeluarga, bermasyarakat maupun berbangsa.

Kedua, Pancasila diharapkan sebagai dasar negara sehingga suatu kewajiban bahwa dalam segala tatanan kenegaraan entah itu dalam hukum, politik, ekonomi maupun sosial masyarakat, harus berdasarkan dan bertujuan pada Pancasila.

Berdasarkan penjelasan tersebut, maka sangat jelas bahwa Pancasila lebih dari sebuah ideologi negara, bahkan merupakan pemahaman dasar bagi bangsa Indonesia dan merupakan kristalisasi dari nilai-nilai luhur yang telah hidup dalam masyarakat Indonesia sejak jaman para leluhur dan Indonesia masih disebut sebagai Nusantara.

Kolaborasi dan Harmoni Global

Tren Global saat ini, sebenarnya kapitalisme dan sosialisme cenderung mengembangkan kolaborasi dan bernaung dalam suatu term yang sepertinya menjadi idologi baru dunia; sustainablism.

Berbagai dokumen Global yang dihasilkan dalam kolaborasi tersbut kini menjadi referensi global. Kita tahu ada dokumen Sustainable Development Goals (SDGs). Inti dari sustainablism yakni harmoni antara manusia dan lingkungannya, baik yang biotik maupun yang abiotik. Harmoni itulah yang akan menciptakan keberlanjutan. Hal ini sebenarnya sudah menjadi jalan hidup para leluhur Nusantara di berbagai pulau di Nusantara ini.

Di Mahkam Hulu misalnya, kita tahu ada ritus yang disebut hudoq pekayang; di bumi Maluku ada tradisi Sasi; di bumi Lembata ada ritus perburuan Ikan Paus yang sangat memperhatikan keseimbangan lingkungan; di Cipta gelar ritus gunung Hlimun; Jabar ada pola pertanian tradidional yang sangat sukses menjaga ketahanan pangan; Kasepuhan Sunda Wiwitan; demikian pula beragam ritus di pulau-pulau lainnya.

Sustainablism merupakan sikap hidup para leluhur Nusantara sejak dahulu. Ini tidak dapat disangkal, dan masyarakat global mendorong sustainability global dengan pola kolaborasi, hal yang juga sebenarnya merupakan sikap hidup leluhur Nusantara dalam pola Gotong- Royong. Gotong-Royong adalah esensi terminologi kolaborasi. Ini Menunjukkkan nilai- nilai luhur Nusantara sama sekali tidak terbelakang bahkan sangat maju melewati jamannya. Indonesia adalah Negara dan Bangsa besar dengan sistem nilai yang mampu menjadi Global Leader.

Merupakan suatu kesalahan besar jika kita mau membuang sistem-sistem nilai tersebut dan mengambil dari luar yang tidak jelas kompatibilitasnya dengan budaya kita. Philosophische Grundlag lebih sebagai Dasar Negara, yang dalam konteks hukum bisa disebut sebagai grund norm atau nilai dasar dari seluruh kerangka hukum yang mengatur kehidupan berbangsa dan bernegara.

Dalam masa penerapan P4, kita sering mendengar istilah; Pancasila sebagai sumber dari segala sumber hukum, itulah yang dimaksud dengan pengertian hukum dasar atau grund norm itu. Semua ketentuan hukum kita, baik pada Undang-Undang, turunannya atau regulasi lainnya, didasarkan pada Pancasila. Bahkan, dalam Anggaran Dasar suatu organisasi sipil mengharuskan adanya Pancasila sebagai nilai yang dianut oleh organisasi sipil tersebut.

Presiden Soeharto menegaskan hal tersebut dengan prinsip asas tunggal. Asas utama dari semua organisasi di Republik ini haruslah Pancasila. Bukankah ini lebih tinggi tingkatannya dari sekedar ideologi negara?

Kapitalisme sebagai ideologi Barat sepertinya sangat mendominasi lembaga-lembaga usahanya serta badan-badan produksinya yang memang didesain menuju akumulasi kapital sesuai prinsip kapitalisme. Namun, kapitalisme tidak pernah menjadi dasar dari organisasi nirlaba negara-negara. Sementara di Indonesia, Pancasila harus menjadi sikap hidup dari semua organisasi. Ini lebih tinggi dari ideologi.

Karena itu, Presiden Soekarno sering menggunakan istilah Welt Anschaung; Pancasila adalah pandangan manusia Indonesia yang utuh tentang dunia, fungsinya bagi manusia; tentang bagaimana manusia beinteraksi dengan dunia, bagaimana dunia dapat memberi manfaat bagi hidup manusia dan pengembangan kemanusiaannya. Tentu pemahaman yang sangat komprehensif ini lebih luas daripada fungsi suatu ideologi.

Esensi Hidup Bernegara

Penulis ingin menutup tulisan ini dengan menegaskan bahwa tidak benar bahwa ideologi hanya dimiliki oleh pribadi dan tidak mungkin dimiliki oleh negara. Mungkin saja pernyataan Rocky Gerung ini merupakan bentuk frustrasi seorang kader sosialis yang tidak pernah berhasil menjadikan sosialisme sebagai ideologi yang dianut Indonesia. Jadi Rocky Gerung menyimpulkan bahwa ideologi tidak mungkin dimiliki oleh suatu negara dan hanya dapat hinggap pada pemahaman personal penganutnya saja.

Pancasila sudah sejak lama disejajarkan dan bahkan dihadapkan dengan ideologi-ideologi besar di dunia ini. Jadi esensi dan levelnya Pancasila memang sejajar dengan ideologi. Bahkan, bagi Bangsa Indonesia, Pancasila lebih dari sekedar ideologi dan merupakan Welt Anschaung Bangsa Indonesia.

Pancasila bahkan sebagai grund norm, norma dasar yang membentuk seluruh kerangka hukum negara yang telah terbentuk hingga saat ini. Oleh karena itu, jika Pancasila digantikan dengan pemahaman lain, maka akan mengubah seluruh bentuk dan kerangka hukum.

Dari sudut konstitusi, jika kita mengikuti logika Rocky Gerung, yang tidak dapat diubah adalah bentuk negara Republik, di mana bentuk Republik punya ciri mengatur hal bersifat publik. Repubik berasal dari kata perania (res publica), berdasarkan hukum-hukum publik.

Karena itu, sistem hukum yang datang dari ranah privat sebagai hukum utama, tidak bisa menjadi dasar hukum dari suatu Republik. Itulah alasan dasar mengapa kita harus terus-menerus menolak Khilafah sebagai ideologi pengganti Pancaila, yang oleh Rocky Gerung dinyatakan sah dan boleh diubah oleh beberapa orang atau kelompok kecil dari Republik Indonesia.

Energi Spiritual

Penulis sangat berharap, kedatangan Presiden Jokowi ke Kota Ende yang disebut sebagai tempat Soekarno menemukan nilai-nilai dasar Pancasila, memberikan energi spiritual bagi seluruh bangsa, khususnya Presiden Jokowi, untuk aktif mempertahankan ideologi Pancasila sebagai satu-satunya ideologi yang dianut oleh Negara Republik Indonesia dengan lembaga-lembaga serta program-program khusus yang masif ke depan.

Pola push approach, partisipatif serta pencerahan dengan memperbanyak interaksi sosial, merupakan pilihan-pilihan yang dapat dipertimbangkan secara metodologis, ketimbang push approach, mobilisasi serta indoktrinasi.

Saat ini, sebenarnya ada beberapa pusat studi yang mengkhususkan kegiatannya dengan tema Pancasila. Salah satu pusat Studi Pancasila yakni di Universitas Pancasila.

Ada juga teman-teman politisi yang mengatakan bahwa Pancasila itu produk politik yang dinamis sehingga dapat saja diubah jika ada keputusan politik baru oleh lembaga politik yang sah.

Hemat Penulis, statement ini juga tidak bisa diterima. Kita mesti melihat peran dan posisi produk politik yang dimaksud, bagaimana NKRI ini dikelola dan diatur dalam Batang Tubuh Konstitui kita. Di sanalah bentuk negara diatur. Ini persoalan teknis kenegaraan; jelas dinamis dan bisa diubah, dan telah kita lakukan beberapa kali dengan amandemen konstitusi.

Namun, perlu dipahami bahwa yang diamandemen adalah Bagian Batang Tubuh Konstitusi kita; hal-hal yang bersifat teknis kenegaraan. Bagian yang bersifat sangat dasariah dari NKRI adalah statement Berdirinya Negara, Tujuan Negara serta Dasar Negara, itu berada dalam mukadimah konstitusi kita. Artinya, jika bagian ini diubah, mestinya statement berdirinya, rumusan tujuannya serta grund norm, welt anchaung yang mendasarinya, harus dibatalkan. Artinya, negara yang muncul kemudian adalah suatu negara baru bukan merupakan NKRI Proklamasi 17 Agustus 1945 lagi.

Wilayah-wilayah yang memberikan konsensus di saat itu untuk bergabung dalam negara ini, punya hak untuk menaikkan kembali konsensus tersebut. Karena, akan ada suatu konsensus baru yang dibentuk tentang tiga unsusr itu: statement Berdirinya Negara, Tujuan Negara dan Dasar Negara. Ini juga sebabnya. Sejauh saya (yang “dungu” ini) pahami, mengapa Pancasila yang ada dalam mukdimah kontitusi kita, tidak boleh disentuh dan diubah-ubah lagi. Produk politik lain; batang tubuh, UU, dan lain-lain bisa saja diubah namun poduk politik dalam mukadimah, khususnya Alinea Keeempat tidak boleh diubah.

Sekali lagi, Penulis bukan ahli tentang Pancasila. Ini adalah bentuk ekspresi dari kegalauan atas minusnya narasi tentang Pancasila yang sangat mengganggu. Penulis memberanikan diri dari segala keterbatasan pemahaman bahkan mungkin oleh RG dinyatakan “dungu”, untuk menawarkan narasi alternatif yang ditawarkan oleh RG. Semoga bermanfaat bagi saudara-saudara sebangsa, khususnya generasi muda bangsa.

Semoga Bapak Jokowi sempat ke Ende pada tanggal 1 juni 2022 ini. Beliau selalu mencipta sejarah baru. Sebagai Presiden, memasuki Kota Ende adalah yang kedua setelah Presiden Soekarno.

Selamat datang di Kota Pancasila Ende, Pakde Jokowi.

* Penulis merupakan Putra Ende, pemerhati sosial, tinggal di Jakarta.

Komentar