oleh

Mengapa Partai Mulai Melirik LaNyalla?

Editorial: Oleh. Freni Lutruntuhluy

Sejak awal 2022 hingga masuk pada bulan Idul Fitri ini terlihat berbagai ulasan konten politik terus mepertontonkan tensi politik yang begitu tinggi pada pemilu 2024 nanti, khususnya sosok Calon Presiden kita. Yang lebih memanas itu pada elit partai yang terlihat sedikit kewalahan mencari formulasi yang tepat sebab antara kepentingan partai dan keinginan rakyat semakin berbenturan karena euphoria parpol saat ini tidak seperti pada 10 tahun yang lalu, dimana partai masih sangat menentukan, namun tahun ini berbalik arah. Partai harus bisa mendengar apa yang rakyat inginkan.

Situasi ini terjadi ditengah berbagai persoalan tanah air yang kian meresahkan rakyat Indonesia dari sabang sampai Merauke, serta desakan itu masih terus menguat. Partaipun akhirnya harus “angkat tangan” dengan mekanisme yang lazimnya dipakai.

Belakangan ini, sebagian kalangan intelektual menilai, misalkan pergerakan Politik LaNyalla yang lebih memilih ke arah bawah bersama rakyat, adalah sebuah reaksi atau sikap politik atas aspirasi rakyat dan system politik Indonesia yang datangnya dari masyarakat, dalam pengertian bahwa politik dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat itulah yang dilakukan. Ini pula yang akhirnya menjadi langkah yang sulit ditebak.

Editorial ini menuliskan, langkah semacam ini merupakan sebuah ancaman politik terhadap fenomena politik tanah air menyosngong pilpres 2024 nanti. Sebab, politik kita tidak hanya diatur oleh partai, melainkan rakyat sebagai pemegang kedaulatan. Oleh sebab itu, keputusan partai harus bisa meresponi apa yang rakyat inginkan saat ini.

Saat ini, miesalkan dengan melihat pergerakan politik LaNyalla yang terus menguat di arus bawah, kemudian peta kekuatan berubah di level bawah, dan bukan tidak mungkin akan ada banyak potensi perdebatan politik terhadap sosok pemimpin masa depan untuk bangsa ini. Itu akan terjadi di masyarakat paling bawah dengan elit partai kita.

Kami melihat ada sebuah wadah yang menamakan diri Perhimpunan Menemukan Kembali Indonesia ikut memberi kritik keras terhadap situasi Indonesia. Para aktivis dan kelompok Intelektual itu tergabung tokoh terkenal, seperti Rocky Gerung, Syahganda Nainggolan, Jumhur Hidayat, Ferry Juliantono, Faisal Basri, Bursah Zarnubi, Roy Suryo, Usmad Hamid, Zaim Saidi, Herdi Sahrasad dan sejumlah tokoh lainnya. Tokoh-tokoh intelektual ini memiliki argumentasi yang kritis terkait kondisi bangsa Indonesia ditengah percaturan politik Global. Tensinya adalah siapa calon pemimpin bangsa yang berani melakukan terobosan membangun bangs aini dengan sebuah mekanisme politik yang bersumber dari akar rumput. Itu substansinya setelah meneropong gejolak politik tanah air dan tuntutan rakyat yang terus menguat di berbagai elemen.

Mereka memperkirakan situasi perang dingin di dunia akan sangat menyulitkan Indonesia dan itu bersamaan dengan perekonomian bangs akita yang lesu, dimana rakyat terus kesulitan membeli kebutuhan pokok, kepemimpinan nasional yang lemah serta berbagai perpecahan dikalangan masyarakat Indonesia yang cenderung terjadi setiap saat. Potensi konflik di Papua misalkan, dan reaksi perpecahan makin terus terjadi dimana-mana akibat lalainya bangsa ini mendesain pembangunan  yang adil untuk semua.

Menurut kelompok intelektual itu, tekanan global bukan hanya sekedar keinginan super power untuk membuat pilihan yang sulit untuk Indonesia, Sehingga tidak ada pilihan yang lebih baik selain melakukan Gerakan politik yang besar untuk menciptakan ilkim demokrasi yang menghasilkan pemimpin yang benar-benar berani melakukan terobosan dan perubahan bagi rakyat Indonesia.

Beberapa waktu lalu, public dikacaukan dengan beberapa isu besar, antara lain soal big data, aksi demonstrasi 11 april dan perpanjangan masa jabatan Presiden Jokowi ke tiga periode. Tiga isu ini benar-benar menguras energi politik dari level atas sampai ke bawah. Ujung-ujungnya juga diketahui sebagai by design tetapi kemudian rakyat bereaksi sebagai persoalan bangsa yang harus segera dibereskan. Gelombang protes kemudian terjadi di hampir seluruh wilayah Indonesia, bahkan isu-isu menurunkan Jokowipun sempat beredar.

Berkaca pada situasi itu, dan kembali melihat beredarnya nama capres dimana-mana? Muncul berbagai analisa politik atas semua figure yang muncul itu. Ada yang membandingkan antara kepentingan elit partai untuk mengusung kader partai bukan menjadi hal yang prioritas setelah melihat fakta-fakta dan arus pergerakan penolakan yang makin kuat. Ada juga yang menganalisa Bangsa ini akan aman dan berjalan baik, jika rakyat harus di dengar. Dalam pengertian bahwa mekanisme politik di partai untuk mengusung calon berangkat dari apa yang menjadi keinginan rakyat bukan elit partai yang hanya sekedar mengejar kekuasaan.

Media ini menuliskan beberapa catatan penting dari sosok seorang LaNyalla Mattalitti tentang mengapa ia harus berani tampil sebagai calon presiden kali ini. Yang pertama berawal dari keinginan LaNyalla sebagai ketua DPD RI terhadap amandemen pasal 222 di Undang-Undang Pemilu soal syarat pencalonan presiden atau abang batas 20 persen yang harus dirubah demi kepentingan rakyat Indonesia. LaNyalla berbeda pandangan dalam hal ini dan itu membuat arus dukungan terhadapnya makin meluas. Sikap seperti ini yang tidak disadari partai politik sebagai sebuah Gerakan politik yang datangnya dari bawah dan partaipun menganggap hal itu tidak akan mungkin terjadi. Persoalannya bukan pada berhasil atau tidak pasal itu dirubah, tetapi soal simpatik dan arah politik yang sulit dibaca elit partai sebagai basis yang kuat.

Point yang kedua adalah, LaNyalla dalam posisi sebagai DPD “bebas bicara” tanpa ada tekanan politik, dan itu berbeda dengan mereka yang terkesan sangat menjaga komunikasi ke rakyat. Point itu juga yang dinilai banyak pakar sebagai kekuatan LaNyalla mengambil hati rakyat.

Logikanya adalah semakin besar LaNyalla “berbicara bebas” tanpa tekanan politik, semakin besar pula dukungan mengalir untuk LaNyalla. Point itu kemudian memperkuat argumentasi rakyat untuk bisa melakukan perlawanan kepada partai.

Catatan terakhir adalah, dengan melihat sentiment politik antara rival capres ini, Sebagian partai mulai melirik LaNyalla sebagai figure yang harus diperhitungkan, sebab menghadirkan pemimpin tanpa dukungan rakyat akan semakin besar permasalahan yang terjadi di bangsa ini. (*)

Komentar