oleh

LaNyalla Menguat Ketika Rakyat Makin Jenuh Dengan Situasi Politik

Editorial:

Ditengah berbagai persoalan tanah air yang kian meresahkan rakyat Indonesia dari sabang sampai Merauke, kehadiran LaNyalla Mattalitti sebagai salah satu bakal calon presiden dianggap sebagai capres potensial yang makin menguat pada 2022 ini.

Kehadirannya mewarnai percaturan politik tanah air persis dengan begitu kuatnya gejolak politik Indonesia ditengah tantangan politik global. Sayangnya, LaNyalla sampai hari ini belum menunjukan warna politik partai, melainkan lebih banyak terjun Bersama masyarakat di berbagai pelosok tanah air.

Banyak kalangan intelektual menilai, arus pergerakan LaNyalla yang lebih memilih ke arah bawah Bersama rakyat, menjadi langkah yang sulit ditebak. Tetapi justru menjadi semacam ancaman politik terhadap dinamika politik tanah air menyosngong pilpres 2024 nanti. Sebab, politik kita tidak sekedar diatur oleh partai, melainkan rakyat sebagai pemegang kedaulatan. Apalagi dengan desakan public yang makin menguat tersebut.

Kekuatan politik LaNyalla akhir-akhir ini terus menguat di arus bawah. Itu sebabnya, jika melihat pada problem bangsa dan peta kekuatan di level bawah, akan ada banyak potensi perbedaan pendapat terhadap sosok pemimpin masa depan untuk bangsa menyongsong pesta demokrasi nantinya.

Melihat dinamika politik tanah air, ada sebuah wadah yang menamakan diri Perhimpunan Menemukan Kembali Indonesia ikut memberi kritik teras terhadap situasi Indonesia.

Para aktivis dan kelompok Intelektual yang tergabung dalam Perhimpunan Menemukan Kembali Indonesia itu melakukan sebuah diskusi kritis di Jakarta pada rabu lalu dengan membahas posisi Indonesia dalam percaturan politik global.

Beberapa tokoh terkenal, seperti Rocky Gerung, Syahganda Nainggolan, Jumhur Hidayat, Ferry Juliantono, Faisal Basri, Bursah Zarnubi, Roy Suryo, Usmad Hamid, Zaim Saidi, Herdi Sahrasad dan sejumlah tokoh lainnya. Tokoh-tokoh intelektual ini memiliki argumentasi yang kritis terkait kondisi bangsa Indonesia ditengah percaturan politik Global.

Mereka memperkirakan situasi perang dingin saat ini akan menyulitkan Indonesia karena situasi ini bersamaan juga dengan perekonomian yang lesu, rakyat yang terus kesulitan membeli kebutuhan pokok, kepemimpinan nasional yang lemah serta berbagai perpecahan dikalangan masyarakat Indonesia yang cenderung terjadi setiap saat.

Menurut kelompok intelektual ini, tekanan global bukan hanya sekedar keinginan super power untuk membuat pilihan sulit bagi Indonesia, menentukan pemihakan, tapi juga perekonomian negara-negara maju akan lebih mengutamakan kebutuhan mereka untuk pertahanan diri daripada memberikan bantuan bagi negara lain, seperti untuk Indonesia. Sehingga tidak ada pilihan yang lebih baik selain melakukan Gerakan politik yang besar untuk menciptakan ilkim demokrasi yang menghasilkan pemimpin yang benar-benar berani melakukan terobosan dan perubahan bagi rakyat Indonesia.

Saat ini deretan nama-nama calon Presiden itu telah menghiasi dunia media dengan berharap kepada partai politik, namun hal itu berbeda dengan LaNyalla Mattalitti yang telah menyatakan dirinya sebagai The Next President 2024 yang masih konsen berkunjung ke rakyat untuk memperkuat basis politik menyongsong pilpres terebut.

Tim Editorial Berita Media Timor

Komentar