oleh

Soal Pemecatan Dokter Terawan, PEREKAT NUSANTARA: Elit IDI Diduga Terpapar Radikalisme dan Intoleransi

JAKARTA, MediaTimor.com– Pergerakan Advokat Nusantara (PEREKAT NUSANTARA), sangat menyesalkan pemecatan Dokter Terawan Agus Putranto oleh Majelis Kehormatan Etik Kedokteran (MKEK) dari keanggotaan Ikatan Dokter Indonesia (IDI).

Pasalnya, PEREKAT NUSANTARA menilai pemecatan itu tidak didasarkan pada alasan dan pertimbangan yang objektif tetapi semata-mata didasarkan pada pertimbangan subjektif di luar alasan sebagaimana diatur dalam Kode Etik IDI.

“Memang dalam Rekomendasi Muktamar IDI dikemukakan sejumlah alasan, akan tetapi jika dilihat dari rekam jejak dan prestasi dr. Terawan dan ketentuan Kode Etik Kedokteran Indonesia dan Pedoman Pelaksanaan Kode Etik Kedokteran Indonesia, maka dr. Terawan seharusnya diberikan penghargaan dalam forum Muktamar IDI di Aceh, bukan pemecatan,” sorot Koordinator PEREKAT NUSANTARA, Petrus Selestinus, dalam keterangan tertulis, Senin (28/3/2022).

Artinya, kata Petrus, alasan-alasan yang dijadikan landasan pemecatan terhadap keanggotaan dr. Terawan oleh Majelis Kode Etik IDI sangat tidak berdasar, sehingga tidak kompatible dengan sejumlah prestasi cemerlang yang digapai dr. Terawan sebagai testimoni dan apresiasi publik melalui ungkapan kepuasan terhadap pelayanan kesehatan oleh dr. Terawan selama ini.

Dokter Terawan Bisa Dirikan IDI NUSANTARA

Menurut PEREKAT NUSANTARA, pemecatan dr. Terawan dari keanggotaan IDI yang diumumkan dalam sebuah forum Muktamar IDI di Aceh, diduga sudah didesain secara matang untuk aksi publisitas guna mendapatkan legitimasi, namun yang terjadi justru sebaliknya dr. Terawan malah mendapat dukungan publik yang semakin luas dan IDI diprotes banyak pihak karena pemecatan dr. Terawan.

“IDI seakan-akan kehilangan akal sehat dan nalar bahkan emosional ketika mengeluarkan Rekomemdasi Pemecatan dr. Terawan dari keanggotaan IDI. Padahal forum Muktamar IDI seharusnya berbicara tentang kemajuan kedokteran Indonesia pasca Covid-19, bukan sebaliknya membunuh kreatifitas dan inovasi dr. Terawan dalam melahirkan metode penyembuhan pasien dengan sistem DSA hingga Vaksin Nusantara,” ujar Petrus.

Petrus beralasan, sikap IDI jelas memperlihatkan ada anasir-anasir Intoleran dan Radikal dalam keputusan pemecatan Dokter Terawan.

“Publik menduga, jangan-jangan sebagian elit, IDI sudah terpapar Radikalisme dan Intoleran sebagaimana IDI Jawa Tengah mencoba membalikan fakta tentang dr. Sunardi, terduga teroris yang ditembak Densus 88 sebagai dokter yang berjiwa sosial kemanusian dan bukan terduga teroris,” timpal Petrus.

IDI Harus Dibersihkan dari Radikalisme

Suara publik (Netizen) yang mendukung dr. Terawan dan memprotes pemecatan dr. Terawan dari keanggotaan IDI, menunjukkan bahwa banyak pihak mengkonstatir bahwa sebagian elit IDI diduga sudah terpapar Radikalisme dan Intoleransi, salah satu indikatornya adalah dr. Sunardi, Anggota IDI, Terduga Teroris yang ditembak mati beberapa waktu lalu dibela habis-habisan oleh IDI dan menyalahkan Densus 88.

“Karena itu, untuk memfilter dan menyelamatkan profesi dokter dari kemungkinan terpapar Radikalisme dan Intoleransi yang semakin luas, maka dr. Terawan sebaiknya difasilitasi untuk membentuk IDI baru yang berwawasan Nusantara, di mana hanya dokter-dokter yang berwawasan Nusantara-lah yang dapat menjadi Anggota IDI baru atau IDI Nusantara,” rekomendasi Petrus.

Pembentukan IDI baru, lanjutnya, bukan tandingan melainkan sebagai upaya secara progresif membenahi kedokteran Indonesia dari praktek-praktek tidak terpuji yang selama ini disorot publik dan gagal dilakukan pembenahan oleh IDI sendiri.

“IDI (Nusantara) baru nanti dapat menjadi wadah untuk melahirkan dokter-dokter Indonesia yang berwawasan Nusantara demi menjaga NKRI, kemurnian dan kemuliaan profesi dokter sesuai dengan visi dan misi IDI yang akhir-akhir sering disalahgunakan oleh Elit IDI untuk tujuan lain di luar tujuan dan sumpah jabatan dokter,” pungkasnya.

Komentar