oleh

Dokter Terawan; Antara Inovasi, Etika dan Kemandirian (Kesehatan) Bangsa

Oleh: Ignas Iryanto*

OPINI, MediaTimor.com– Keterangan dari Ikatan Dokter Indonesia (IDI) menggambarkan bahwa Dokter Terawan merupakan sosok yang tidak mau bekerjasama, arogan dan tidak pernah mau datang ketika dipanggil oleh Majelis Kehormatan IDI.

Jika dilihat dari karakternya sebagaimana testimoni orang-orang yang dirawat, mestinya sosok ini tidak seperti digambarkan.

Sangat mungkin, ada soal lain dalam seluruh proses ini. Bahkan, hingga saat ini belum terdengar statement dari Dokter Terawan sendiri.

Sikap di atas, diduga merupakan impak dari suatu keadaan yang dirasakan oleh Dokter Terawan sendiri, bukan merupakan sebab awal dari seluruh peristiwa ini.

Saya setuju dengan usul Wakil Ketua Komisi IX DPR RI, Melky Laka Lena, agar semua pihak dapat membuka ruang dialog dan menempatkan kepentingan publik di atas segala pertimbangan. Juga kepentingan Kemandirian Bangsa dari sudut pelayanan Kesehatan. Mungkin hal ini perlu dilihat lebih jauh lagi.

Terdapat dua hal yang mesti disorot dalam kaitan dengan persoalan ini.

Pertama, IDI sebagai Organisasi Profesi

Dalam konteksnya, Dokter, Advokat, Akuntan, Apoteker, merupakan profesi-profesi khusus yang diharuskan menempuh tahap Pendidikan Profesi Khusus (setelah mengantongi gelar Sarjana akademis) dan bergabung dalam organisasi-organisasi khusus, yang mengatur mengenai kode etik profesinya. Apakah organisasi Profesi seperti ini harus bersifat tunggal?

Advokat punya organisasi profesi lebih dari satu, dan masing-masing memiliki kode etik serta lembaga etiknya sendiri. Selain itu, Advokat juga menjalankan pendidikan profesinya sendiri dengan standard yang ditentukan oleh Kemenkumham.

Apakah IDI bisa seperti itu? Atau apakah organisasi Profesi yang tunggal itu, tidak sebaiknya dibatasi kewenangannya dan tidak semena-mena boleh mencabut hak orang untuk menjalankan profesinya?

Sebab itu, kesewenangan mencabut hak berpraktek, jelas secara bersamaan mencabut hak rakyat untuk dilayani oleh sang Profesional, dalam konteks kesehatan oleh dokter yang bersangkutan. Apalagi jika selama praktek kedokterannya, Dokter tersebut tidak pernah merugikan pasien, tidak pernah menimbulkan fatality bagi pasiennya. Bukankah fungsi utama Dokter adalah menyelamatkan jiwa pasiennya dari kematian akibat penyakit yang dideritanya?

Hal lain, jika ada organisasi Profesi yang membuat keputusan yang merugikan anggotanya, ke mana anggotanya harus mengadu? Aampakah ada lembaga khusus di bawah Kementerian terkait atau harus ke pengadilan? Atau masuk ke lembaga politik dengan isu merugikan kepentingan publik? Masuknya DPR dalam soal ini menyiratkan pendekatan ini.

Pengurus IDI juga manusia, sebagaimana Dokter Terawan. Semua bisa khilaf. Apalagi, jika bicara organisasi apapun, kita tahu akhir-akhir ini banyak infiltrasi masuk ke dalam organisasi-organisasi; baik Politik maupun lembaga publik dari kelompok-kelompok yang memang kerjanya merusak suasana dalam bingkai kebangsaan. Apakah IDI juga sudah diinfiltrasi? Kita tidak tahu!

Itu sebabnya, sebaiknya organisasi profesi apapun tidak mengenal wadah tunggal, juga harus dibatasi kewenangannya serta harus dibuat mekanisme pembelaan diri yang menjadi hak anggotanya, di luar lembaga itu.

Kedua, Substansi

Apakah metode Dendritic Cell yang digunakan; baik dalam Brain Wash maupun dalam Vaksin Nusantara yang dilakukan oleh Dokter Terawan dan teamnya, memang secara ilmiah tidak bisa dipertanggungjawabkan? Ini bukan bidang saya, jadi saya tidak berani masuk lebih jauh ke detailnya. Saya hanya menggunakan common sense saja.

Fakta membuktikan bahwa praktek Brain Wash sudah menolong ribuan pasien yang bisa memberikan testimoni langsung. Jadi, secara empiris metode ini telah memberikan evidence (bukti) efektifitasnya dalam menyembuhkan gangguan penyumbatan di pembuluh darah bagian kepala, yang dapat mengakibatkan stroke. Mestinya, menjadi tugas science, khususnya bidang kedokteraan untuk memberikan penjelasan ilmiah soal ini. Alam telah memberikan fenomena, science punya pekerjaan rumah untuk menjelaskan fenomena itu.

Langkah pemecatan ini bisa dilihat seolah-olah IDI tidak dapat memahami penjelasan ilmiah dari metode tersebut, dan karena itu Dokter Terawan harus dipecat agar tidak menggunakan metode itu, walaupun sudah terbukti eketif menyembuhkan ribuan pasien. Apakah pendekatan seperti ini juga etis terhadap publik? Ini pertanyaan yang tentu butuh penjelasan medis kepada publik.

Namun, apakah benar itu adalah metode yang hanya diketahui oleh Dokter Terawan sendiri? Jika kita googling dan memasukkan kata Metode Dendritic Cell, dalam waktu 30 detik muncul 59 ribu hasil pencarian google tentang hal tersebut. Bahkan, muncul beberapa lab di luar negeri yang juga mengembangkan metode ini.

Secara common sense saja, hal ini membuktikan bahwa metode ini bukan hanya dikembangkan oleh Dokter Terawan, namun juga berbagai lembaga riset lain. Jadi, menuduh bahwa Dokter Terawan menerapkan metode medis yang belum bisa dibuktikan secara ilmiah, perlu diragukan. Atau sebenarnya ada isu lain di sini? Hal itu harus digali lebih dalam lagi.

Indikasi Mafia Industri Farmasi dan Inovasi

Dalam dunia kedokteraan dan farmasi, sudah lama ditengarai adanya mafia dalam industri farmasi yang punya kepentingan bisnis Triliuan Dollar secara global dan memiliki mekanisme pemaksaan halus agar metode konvensional yang mereka kembangkan dengan perangkat peralatan dan obat yang dikembangkan, harus digunakan dalam dunia kedokteraan. Dan sangat boleh jadi, IDI adalah bagian dari instrumen marketing dari kelompok ini.

Oleh karena itu, inovasi-inovasi yang akan merugikan kepentingan mereka, harus segera dihentikan lewat berbagai jaringan yang dikontrol oleh kelompok ini. Ini juga tema yang seharusnya dilacak.

Dokter Terawan dan teamnya dikenal melakukan banyak terobosan, termasuk akhir-akhir ini terobosan untuk mengatasi penyakit Ginjal dan Diabetes. Sangat boleh jadi, ada kepentingan bisnis raksasa farmasi global di balik semua ini.

Dan jika kita bicara soal ini, akhirnya kita harus membicarakan kemandirian bangsa dalam bidang kesehatan. Inovasi yang dilakukan oleh Dokter Terawan dan teamnya; baik dengan metode Brain Wash, Vaksin Nusantara maupun terobosan lainnya, merupakan langkah dan upaya positip bagi kemandirian (kesehatan) Bangsa.

Faktanya, Dokter Terawan tidak sendiri. Banyak anak bangsa lain yang bekerja dalam diam dan sudah secara efektif membantu ribuan orang dengan terobosan-terobosan inovatif.

Potensi pengobatan tradisional berbasis herbal di negeri ini, misalnya, sangat amat luar biasa tersebar di hampir seluruh suku Nusantara ini. Kita mestinya tidak perlu tergantung pada industri farmasi global yang mendikte seluruh aspek pelayanan kesehatan kita. Yang diperlukan hanya langkah terpadu, juga ruang inovasi bagi para tenaga Profesional yang bergerak dalam bidang tersebut. Buka ruangnya, dan akan bermunculan inovator-inovator Nusantara dari berbagai daerah.

Kasus Dokter Terawan, sangat mungkin menyimpan persoalan sangat strategis dalam konteks kemandirian bangsa.

Jika kita melihat meme di atas, sepertinya alasan yang dipakai sangat childish.
Sangat disayangkan, karena “mempromosikan penemuannya secara berlebihan lewat Televisi, media online dan media elektronik lain,” jadi alasan pemecatan? Secara logika sehat, saya tidak percaya!

* Penulis adalah Pemerhati Sosial, tinggal di Jakarta.

Komentar