oleh

Tanggapi Transparansi Ketua Pokja Stunting NTT, KOMPAK Indonesia: Segera Laporkan ke KPK RI

JAKARTA, MediaTimor.com– Koalisi Masyarakat untuk Pemberantasan Korupsi (KOMPAK) Indonesia, menanggapi serius sikap transparan Ketua Kelompok Kerja (Pokja) Stunting Nusa Tenggara Timur (NTT), Sarah Lery Mboeik, yang berani mengakui ke publik bahwa pelaksanaan program pencegahan stunting di NTT dengan anggaran sebesar Rp 165 Miliar oleh Organisasi Perangkat Daerah (OPD) tidak tepat sasaran, dan ada yang one man show.

“Banyak program yang dilaksanakan baik oleh OPD di Provinsi maupun Kabupaten/Kota, tidak berbasis pada hasil analisa situasi (ansit) yang didesign Pokja, makanya ada temuan BPK di situ,” kata Sarah Lery Mboeik, melansir korantimor.com, Kamis (24/3/2022).

Menurut Sarah, program pencegahan stunting tidak tepat sasaran juga karena program tersebut tidak dilakukan dalam satu koordinasi tim kerja yang kompak dan solid.

Sebaliknya, pelaksanaan program pencegahan stunting  terkesan hanya monopoli orang tertentu atau one man show.

“Saya tidak bermaksud untuk mencuci tangan terkait masalah pencegahan stunting di NTT, red, tetapi yang saya lihat adalah banyak yang masih kerja one man show. Padahal stunting ini masalah multi sektor. Gereja harus kita libatkan, Masjid harus kita libatkan, lembaga adat harus kita libatkan,” jelasnya.

Tanggapan KOMPAK Indonesia

Menanggapi hal itu, Ketua KOMPAK Indonesia, Gabriel Goa, mendesak agar hal itu harus segera dilaporkan ke Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Republik Indonesia untuk diusut dan bongkar tuntas.

“Jika pernyataan resmi ke publik itu diperkuat dengan bukti-bukti pendukung termasuk hasil Audit BPK RI, maka harus segera dilaporkan ke KPK RI untuk ditindaklanjuti, karen sudah menyangkut penyalahgunaan kekuasaan dan tindak pidana korupsi berjamaah terhadap Anggaran bernilai fantastis yakni Rp 165 Miliar,” desak Gabriel melalui keterangan resmi kepada media ini, Sabtu (26/3/2022).

Sebagai bentuk dukungan keseriusan, komit Gabriel, KOMPAK Indonesia siap mendampingi Ketua Pokja Stunting NTT yang juga dikenal garang dalam pemberantasan korupsi.

“Wajib hukumnya dugaan tindak pidana korupsi penyalahgunaan dana Stunting NTT senilai Rp 165 Miliar ini harus segera dilaporkan ke KPK RI agar dibongkar tuntas,” tegas Gabriel.

Menurut Gabriel, Ibu Sarah Lery Mboeik juga bisa menjadi Whistle Blower guna membongkar One Man Show di NTT, yang diduga kuat sangat berkuasa, sehingga OPD bertekuk lutut tak berdaya dalam realisasi program stunting sehingga akibatnya salah sasaran.

“Kami terpanggil untuk mendukung Ibu Sarah Lery Mboeik, Ketua Pokja Stunting NTT, yang terkenal garang membongkar kejahatan korupsi di NTT selagi menjadi Direktur Pengembangan Inisiatif dan Advokasi Rakyat (PIAR) NTT,” dukung Gabriel.

Gabriel kembali menegaskan bahwa pihaknya siap mendampingi Ketua Pokja Stunting NTT sebagai Whisle Blower guna mengungkap sosok one man show dan berani melaporkan penyalahgunaan kekuasaan serta dugaan korupsi berjamaah dalam penggunaan anggaran stunting NTT senilai Rp 165 Miliar.

Gabriel dengan tegas mengingatkan, jika Ketua Pokja Stunting NTT tidak melakukan apa-apa (melaporkan ke KPK RI, red) bahkan takut membongkar korupsi berjamaah stunting di NTT senilai Rp 165 Miliar itu, maka KOMPAK Indonesia bersama Aliansi Masyarakat Madani (AMMAN) FLOBAMORA dan Pegiat Anti Korupsi, akan melaporkan resmi Ketua Pokja Stunting NTT Beserta OPD terkait, yang diduga terlibat dalam penggunaan dana stunting Rp 165 Miliar tersebut.

“Jika Ketua Pokja Stunting NTT, Ibu Sarah Lery Mboeik tidak berani membongkar dan melaporkan dugaan korupsi dana stunting tersebut, maka kami akan melaporkan Ketua Pokja Stunting NTT ke KPK RI,” tegas Gabriel yang berjanji akan terus mendalami, mengumpulkan bukti-bukti pendukung dan mengawal kasus tersebut hingga ke KPK RI.

Komentar