oleh

Kritisi Wacana Perpanjangan Jabatan Presiden hingga Penundaan Pemilu, Putra Ende ini Tulis Surat Terbuka kepada Presiden Jokowi

JAKARTA, MediaTimor.com– Di tengah wacana perpanjangan jabatan Presiden hingga tiga Periode, juga wacana penundaan Pemilu yang kini masih menyedot perhatian publik tanah air, putera bangsa Kelahiran Ende, Flores, NTT, Ignas Iryanto, menulis Surat Terbuka yang langsung ditujukan kepada Presiden Joko Widodo (Jokowi).

Berikut isi Surat Terbuka Ignas Iryanto;

Kepada yang sangat saya hormati
Bapak Joko Widodo
Presiden Terbaik Republik Indonesia
Di-Jakarta

Ijinkan saya salah seorang rakyat Bapak, mengucapkan syukur berlimpah pada Tuhan yang Maha Esa yang telah mengirimkan kepada kami seorang Presiden dengan hati yang sungguh menyintai rakyatnya, dengan seluruh pikiran yang dicurahkan untuk nasib rakyatnya dan dengan kaki dan tangan yang selalu bekerja tanpa lelah demi memajukan rakyatnya.

Sudah banyak para ahli yang menuliskan keunggulan-keunggulan Bapak Presiden, juga jasa-jasa terobosan yang telah dilakukan selama masa pengabdian Bapak sebagai Presiden negeri ini, yang masih akan berlangsung hingga tahun 2024 nanti.

Syukur kepada yang Maha Segala, juga terima kasih berlimpah kepada Bapak Presiden sendiri untuk semua yang telah dilakukan bagi negara, bangsa dan rakyat bumi Nusantara ini.

Kekaguman dan rasa syukur ini semakin membuncah, ketika menghadapi wacana perpanjangan jabatan Presiden hingga tiga Periode maupun atas wacana penundaan Pemilu, Bapak Presiden dengan tegas menolak dengan menyatakan bahwa orang-orang yang mengemukakan pemikiran itu adalah mereka yang mencari muka atau ingin menampar muka Bapak atau juga ingin menjebak Bapak.

Jelas sekali, Bapak Presiden bukan saja sosok yang taat pada Konstitusi Negara, namun juga sosok adiluhung yang sangat menghayati bahwa pemimpin sejati adalah pemimpin yang sadar dan tahu akan saatnya untuk mundur.

Kami juga semakin jatuh cinta pada Bapak Presiden yang makin terbukti merupakan pemimpin sejati, karena pemimpin sejati mampu menyiapkan penggantinya, yang mampu meneruskan misi kepemimpinannya. Estafet kepemimpinan seyogyanya berjalan secara alamiah sebagaimana sudah diatur oleh Konstitusi Negara dan juga sudah mulai dipersiapkan secara bertahap namun pasti oleh Bapak Presiden sendiri, dengan membuka ruang bagi calon-calon pengganti Bapak untuk mulai dikenal oleh rakyat banyak. Sebagai negarawan, bapak tentu akan membiarkan rakyat yang akhirnya menentukan siapa pengganti Bapak.

Rasa syukur itu menjadi makin hakiki setelah melakukan refleksi atas perjalanan bangsa kita sejak kemerdekaan, betapa kita mengalami dua masa di mana Presiden kita sangat lama berkuasa; masa Orde Lama dan Orde Baru.

Dan adalah fakta sejarah bahwa pada akhir dua masa tersebut, telah terjadi chaos politik dan sosial yang sangat dalam melukai jalan hidup bangsa ini dan yang telah membutuhkan waktu dan energi sangat besar untuk menyembuhkannya. Sejarah kita juga menunjukkan bahwa selalu ada alasan untuk membenarkan lamanya masa jabatan dalam dua fase historis tersebut dan pada masa itu dianggap sangat legitim dan valid, namun yang kemudian ternyata membawa akibat buruk bagi bangsa kita.

Pernyataan Bapak Presiden di atas, bukan saja menunjukkan kesejatian kepemimpinan dalam diri Bapak, namun juga melegakan karena kecenderungan untuk memperpanjang masa kepemimpinan dengan menggunakan Konstitusi sebagai alat, tidak akan terjadi lagi dalam perjalanan sejarah bangsa ini. Konstitusi seharusnya bersifat visioner dalam jangka panjang. Walaupun dokumen itu memang bukan sakral karena bisa diubah, namun perubahan tersebut seyogyanya datang dari alasan yang visioner dan strategis, bukan karena alasan yang melekat pada diri seorang pemimpin.

Bukankah lamanya kekuasaan pada periode yang lalu juga memiliki alasan yang sama, bahwa Presiden-Presiden pada masa tersebut adalah orang-orang terbaik bagi bangsa ini yang tidak tergantikan dan terus dibutuhkan oleh rakyat kita. Sejarah kita telah membuktikan bahwa argumentasi itu tidak valid, bahkan dilupakan serta diganti dengan caci maki pada akhir periode kekuasaannya.

Selain rasa syukur tersebut, kami juga berdoa kepada Tuhan yang Maha Segala agar Bapak Presiden dikuatkan dan diteguhkan dalam sikap mulia seorang pemimpin sejati seperti yang telah Bapak tunjukan dalam langkah, sikap dan kata selama ini. Rasa syukur tersebut saya nyatakan dalam surat terbuka ini, karena saya melihat makin banyak anggota team Bapak yang semakin keras menyuarakan agenda yang telah Bapak tolak secara tegas, penundaan Pemilu dan atau perpanjangan masa jabatan Presiden.

Ijinkan saya, dengan segala keterbatasan pemahaman saya tentang politik serta ketatanegaraan, berdasarkan logika sederhana saya, menunjukkan bahwa segala argumen yang disampaikan oleh mereka adalah jebakan semata, sesuai dugaan yang telah Bapak Presiden sendiri sampaikan beberapa waktu yang lalu.

Beberapa alasan telah mereka sampaikan sebagai argumen dari agenda yang mereka usulkan;

Pertama, aspirasi rakyat sebagai alasan

Berkaca pada sejarah kita sendiri, alasan ini juga yang dipakai pada dua periode dalam sejarah kita, di masa Orde Lama maupun Orde Baru. Selain bahwa validitas dari argumen tersebut harus diuji secara ilmiah, kekuatan kepemimpinan Bapak selama ini adalah tidak pernah larut dalam opini publik yang terlihat kasat mata, namun tetap berpijak pada pemikiran strategis dengan analisis yang mandiri. Jika memang ada aspirasi rakyat seperti itu, pertanyaan yang sangat penting adalah tepatkah aspirasi tersebut direalisasikan? Apakah keinginan sebagian rakyat tersebut, jika valid ada, adalah benar merupakan kebutuhan bangsa dalam jangka panjang? Apakah tidak ada resiko bahwa seluruh proses dalam rangka merealisasikannya akan menjebak bangsa dalam masalah-masalah baru yang sama sekali tidak terpikirkan, karena kerumitan dari proses proses politik yang harus diubah dalam waktu bersamaan? Sangat mungkin, di sanalah jebakan yang juga telah Bapak duga.

Kedua, dana Pemilu tidak ada

Beberapa statemen yang dikeluarkan oleh mereka itu, menyatakan bahwa dana Pemilu yang dibutuhkan sebanyak Rp 100 Triliun itu akan menghabiskan APBN kita, dan sebaiknya dialihkan untuk agenda-agenda pembangunan lainnya bagi bangsa ini.

Argumen ini menunjukkan seolah-olah mereka sangat memperhatikan kepentingan bangsa dan negara. Namun, sekali lagi terlepas dari kerumitan proses politik dan hukum yang harus ditempuh, argumen soal dana Pemilu ini sangat lemah dijadikan dasar.
Apakah penundaan Pemilu atau perpanjangan masa jabatan, akan meniadakan Pemilu selamanya sehingga dana tersebut tidak akan pernah dipakai? Faktanya dana tersebut tetap akan dipakai kapanpun Pemilu tersebut akan dijalankan. Jika demikian, apa manfaat dari cost politik yang tidak bisa diprediksi dan yang bisa terjadi jika agenda ini dipaksakan? Jika terjadi chaos politik, sangat mungkin biaya yang muncul akan jauh lebih besar daripada biaya Pemilu tersebut. Mereka juga mengatakan bahwa yang menentang, akan dihadapi oleh negara. Apakah sikap ini justru tidak membuat langkah mundur

demokrasi kita dan malah akan menunjukkan kebenaran dari tuduhan murahan kelompok oposisi bahwa kepemimpinan Bapak adalah kepemimpinan yang otoriter?

Selain itu, ada kontradiksi yang sangat mengganggu terkait dengan argumen ini. Dalam minggu-minggu terakhir ini, data ekspor kita disebut mencapai angka tertinggi sepanjang sejarah bangsa. Dengan nilai komoditas yang tinggi, volume ekspor tersebut tentu menghasilkan pendapatan negara yang tinggi. Bagaimana mungkin pada saat mereka membanggakan pencapaian ini, mereka juga mengemukan masalah dana sebagai alasan penundaan Pemilu. Sementara Pemilu adalah agenda tetap suatu negara demokratis seperti NKRI ini, sehingga pendanaannya semestinya sudah dicadangan sebagai cadangan strategis negara yang telah dipersiapkan jauh sebelumnya. Sangat jelas alasan dana Pemilu adalah alasan yang sangat lemah dan tidak dapat diterima.

Ketiga, penting untuk kontinuitas proses pembangunan yang telah Bapak Presiden rintis

Alasan ini menjebak Bapak dalam sikap arogan yang sejatinya, jauh dari karakter Bapak yang rakyat kenal dan cintai. Itu bukan Bapak banget…itu sikap mereka. Jika argumen ini dijadikan alasan, terlihat seolah-olah Bapak tidak percaya pada kemampuan anak bangsa lain selain Bapak sendiri. Bahwa hanya Bapak yang bisa meneruskan proses yang Bapak rintis. Pertanyaan jebakan yang pasti muncul: sampai kapan? Sampai kapan argumen ini masih valid dipakai yang juga berarti sampai kapan perpanjangan itu harus dilakukan? Sejarah telah menunjukkan betapa jahatnya jebakan dari argumen yang sangat bersifat arogan ini.

Saya sangat yakin bahwa bapak telah melihat potensi-potensi bangsa ini yang akan mampu melanjutkan visi dan misi Bapak dan biarkan rakyat yang akan memilih yang terbaik dari mereka. Saya juga yakin bahwa Bapak memiliki cara dan strategi untuk secara halus mempersiapkan mereka demi keberlanjutan rencana-rencana dan agenda-agenda Bapak. Jika mereka, para pengusung agenda ini, memang benar ingin memastikan bahwa kontinuitas pembangan adalah sangat penting bagi mereka, ada banyak cara lain yang dapat dilakukan daripada masuk dalam keruwetan proses politik dan hukum sebagai konsekuensi dari agenda penundaan pemilu maupun perpanjangan masa jabatan. Mereka bisa saja menyerahkannya kepada Bapak Presiden untuk menunjuk atau minimal memberi signal kepada bangsa, siapa yang Bapak anggap paling tepat untuk menggantikan Bapak.

Saya yakin ada banyak cara lain juga yang bisa dilakukan untuk menjamin kontinuitas dari proses proses pembangunan transformatif ini. Pendekatan politik maupun manajemen pemerintahan dapat dipakai untuk itu.
Argumen ketiga ini sekaligus juga suatu tuduhan terselubung bahwa Bapak tidak mampu mempersiapkan pengganti Bapak yang bisa ditawarkan ke rakyat pemilih. Bahkan, tuduhan ini sebenarnya jatuh ke mereka juga bahwa Partai-partai politik di negeri ini tidak mampu melakukan regenerasi kepemimpinan nasional secara teratur sesuai agenda politik bangsa. Betapa lemahnya bangsa ini, jika hanya tergantung pada satu sosok saja dan bahkan Bapak akan dianggap sebagai sosok yang menciptakan ketergantungan tersebut.

Keempat, ini agenda dari para pencinta Jokowi

Memang kelihatannya yang mengemukakan agenda ini adalah para pendukung Bapak Presiden, baik partai politik maupun beberapa anggota Kabinet Bapak. Namun maafkan saya jika mengatakan saya meragukan kecintaan mereka kepada Bapak. Apakah tidak bias dengan kepentingan mereka sendiri? Saya bukan orang politik, jadi tidak mampu menangkap kepentingan apa yang mereka miliki. Saya hanya menduga dengan logika sederhana saja, bahwa sangat mungkin jika Konstitusi tidak diubah dan agenda Pemilu berjalan normal, agenda-agenda politik mereka pasti tidak bisa berjalan. Penundaan itu bukan bukti kecintaan dan dukungan mereka pada Bapak namun adanya kekwatiran bahwa agenda mereka tidak akan berjalan sukses. Sebab, yang disebut kecintaan itu adalah kepalsuan politik. Sebenarnya wajar jika mengingat istilah dalam politik yakni tidak teman sejati, yang ada kepentingan semata. Jika teman sejati tidak ada, bagaimana mungkin dalam politik ada cinta dan dukungan yang tulus? Saya kuat menduga jika Pemilu berjalan sesuai jadwal, mereka itu akan berbeda sikapnya dengan Bapak pada saat Pemilu dilaksanakan.

Maafkan saya membahas argumen yang dimunculkan oleh mereka. Pertanyan retoris seperti; tunjukkan alasan mengapa Jokowi harus turun adalah pertanyaan yang salah. Karena kami yang menentang mereka tidak pernah menuntut Bapak harus turun, namun akan tetap mengawal Bapak sampai akhir masa jabatan sesuai Konstitusi kita dan bahkan juga akan mengawal siapapun calon pengganti yang diberi signal dukungan dari Bapak sendiri.

Surat terbuka ini saya akhiri, dengan harapan Bapak tetap konsisten pada sikap Bapak yang mulia sebagaimana telah Bapak ungkapkan sebelumnya.

Sekali lagi, terimalah rasa syukur kami bahwa Tuhan mengirimkan Bapak ke tengah bangsa ini untuk memimpin kami. Biarkan kami berbangga memiliki Bapak sebagai Presiden sampai akhir. Amin Amin, Ya Tuhan dan Allohku.

Ende, 16 Maret 2022.

Hormat saya,
Ignas Iryanto
Putra Indonesia Kelahiran Ende.

Komentar