oleh

PEREKAT NUSANTARA: Seruan Habib Jafar Shodiq Alattas agar Gulingkan Presiden Jokowi, Masuk Kejahatan Makar

JAKARTA, MediaTimor.com– Kasus rekaman video yang berisi ceramah provokatif Pendakwa Habib Jafar Shodiq Alattas, menyerukan jemaahnya agar bersatu dan membawa pedang untuk menggulingkan Presiden Joko Widodo (Jokowi), ramai diperbincangkan para netizen dan mempertanyakan mengapa Polisi belum bertindak.

Pergerakan Advokat (PEREKAT) Nusantara angkat bicara terkait Potongan Video rekaman veramah Habin Jafar Shodiq Alattas yang menjadi viral usai diunggah oleh pengguna Twitter Bambangmulyono2.

Seperti dilihat pada Kamis (17/2/2022) di media sosial saat pendakwah Habib Jafar Shodiq Alattas sedang berceramah mengajak para jamaah bersatu menggulingkan Presiden Jokowi.

“Seruan Habib Jafar Shodiq Alattas (JSA) di atas sudah masuk kualifikasi Kejahatan Pidana Makar, karena itu Polri seharusnya segera melakukan tindakan Polisionil guna mencegah konsolidasi massa yang lebih besar untuk merealisasikan seruan Habib JSA dimaksud,” desak Daniel T. Masiku, dalam keterangan resmi kepada media ini, Sabtu (19/2/2022).

Menurut Daniel, Polri tidak boleh bersikap menunggu atau baru bertindak setelah ada Laporan Polisi dari masyarakat.

“Polri harus melakukan tindakan Polisionil yang cepat terhadap siapapun yang secara langsung atau tidak langsung merongrong Kepala Negara, dan mengganggu Ketertiban Umum,” lanjut Advokat itu.

Daniel yang juga Pendiri PEREKAT NUSANTARA itu beralasan, ceramah provokatif tersebut merupakan ancaman serius terhadap integrasi bangsa yang akhir-akhir ini menguat, karena selama ini banyak kasus pidana yang menyangkut wibawa Kepala Negara dan Integrasi bangsa.

“Fenomena umum, Polisi baru merespons kalau sudah ada laporan dari Masyarakat atau setelah didemo dengan kekuatan massa baru Polri bertindak,” sentilnya.

Budaya Kerja Polri Harus Dibenahi

Daniel beranggapan, pola kerja Polri harus dibenahi, terutama dalam kasus yang menyangkut kejahatan makar, karena jaringan kelompok yang menghendaki kejatuhan Presiden Jokowi terus digaungkan dan mereka merasa diri sebagai kebal hukum dan terus menerus mengkonsolidasikan kelompoknya untuk merongrong kekuasaan Pemerintahan Presiden Jokowi.

“Seruan Habib JSA kepada jamaatnya agar bersatu angkat pedang menggulingkan Presiden Jokowi dan Pemerintahannya, telah direkam dan beredar secara luas melalui medsos untuk memprovokasi publik dan berdampak potensial untuk memecah-belah persatuan bangsa. Ini kejahatan makar,” tegas Daniel.

Dalam rekaman video di media sosial yang berisi ceramah provokatif Pendakwa Habib JSA, terdapat narasi berisi seruan kepada para jemaahnya agar bersatu, membawa pedang untuk menggulingkan Presiden Jokowi dan pemerintahannya.

“Ini harus diwaspadai karena aksi-aksinya bisa merepotkan Aparat Penegak Hukum,” kata Daniel mengingatkan.

Tangkap dan Tahan Habib JSA

PEREKAT NUSANTARA menyayangkan respon Aparat Penegak Hukum yang hingga sekarang belum ada langkah-langkah penindakan berupa penangkapan dan penahanan terhadap Habib JSA untuk penyelidikan dan penyidikan.

Sementara itu, desakan publik agar Habib JSA segera ditangkap dan ditahan cukup menggema, pertanda dukungan publik yang meluas kepada Polri untuk menindak para terduga makar.

“Lambannya Polri melakukan tindakan Polisionil terhadap tokoh-tokoh yang sering memprovokasi kelompok masyarakat untuk melalukan makar, juga membuat kelompok ini selalu muncul lagi silih berganti memprovokasi masyarakat untuk makar, karena Aparat Penegak Hukum bersikap lunak,” sorot Daniel.

Ia mencontohkan, kasus dugaan makar terhadap Kepala Negara yang disangkakan kepada Egie Sudjana sejak ditetapkan sebagai tersangka pada 2019, hingga sekarang tidak jelas kelanjutannya.

Padahal, seruan Habib JSA sudah masuk kategori permulaan pelaksanaan rencana untuk makar dan seruan itu dilakukan di hadapan para jemaah yang telah memiliki visi dan misi yang sama, dipastikan akan dikonsolidasikan lewat rekaman video dan medsos guna memperluas dukungan.

PEREKAT NUSANTARA mengingatkan, jangan dikira kelompok Habib JSA hanya sebatas ceramah, lalu diam.

“Mereka dipastikan melalui forum-forum ceramah akan terus mempersiapkan gerakan untuk makar terhadap Presiden Jokowi, di samping itu untuk menimbulkan rasa kebencian dan permusuhan antar individu atau golongan warga masyarakat dengan ceramah-ceramah yang disebar melalui Medsos,” imbuh Daniel.

Tindakan makar dimaksud diancam dengan pidana penjara oleh Kitab UU Hukum Pidana (KUHP) dalam pasal 104-107 dan 108 KUHP.

Komentar