oleh

PADMA Indonesia Minta Batalkan Niat Deportasi Warga Panama

JAKARTA, MEDIATIMOR.COM – Lembaga Hukum dan HAM PADMA (Pelayanan Advokasi untuk Keadilan dan Perdamaian) Indonesia meminta pihak Imigrasi Indonesia membatalkan langkah gegabah untuk mendeportasi warga negara asal Panama, Roshni Lachiram Parvani Sadhawani.

PADMA menilai, keputusan tersebut bertentangan dengan asas keadilan sehingga perlu ditangguhkan sementara waktu, dan sebagai solusi Roshni diberi kesempatan untuk mengurus Kartu Izin Tinggal Sementara (KITAS) sebagai pengganti Kartu Izin Tinggal Tetap (KITAP) yang sudah habis masa berlaku.

“Kami mohon pertimbangan dari pihak keimigrasian agar meninjau ulang niatan mendeportasi Ibu Roshni yang menurut kami sangat mencederai rasa keadilan,” ungkap Ketua Dewan Pembina lembaga Hukum dan HAM PADMA Indonesia, Gabriel Goa saat beraudiensi dengan pihak Imigrasi di Gedung Direktorat Jenderal (Dirjen) Imigrasi Indonesia, Kuningan, Jakarta, pada Senin (17/1) siang.

Menurut Gabriel, permasalahan yang menimpa ibu dua anak itu bukan atas unsur kesengajaan. Dijelaskan, habisnya masa berlaku KITAP milik Roshni ditengarai ulah sang suami, Prithvi Suresh Vaswani yang sengaja menhambat perpanjangan dokumen izin tinggal Roshni tersebut.

“Ini yang biadab itu sebetulnya si suaminya. Sengaja ia persulit proses pengurusan perpanjangan KITAP bu Roshni karena semua dokumen terkait izin tinggal di Indonesia disembunyikan dengan alasan dokumen-dokumen tersebut telah hilang,” ujar dia.

Disebabkan itikad buruk sang suami yang tidak mau memberikan kesempatan kepada Roshni untuk dapat memperpanjang KITAP membuat pengurusan izin tinggal Roshni di Indonesia menjadi terhambat sehingga kesulitan untuk memperpanjang kembali.

“Jadi ini mainan Prithvi (suami Roshni). Sengaja dia persulit perpanjangan KITAP ini agar ibu Roshni ini dideportasi. Sebab, pemegang Sponsor (penjamin izin tinggal) adalah dia sendiri (Prithvi). Sedangkan untuk mengganti Sponsor baru kan harus ada dokumen-dokumen KITAP itu,” terangnya.

Adapun menurut Gabriel, aksis kesengajaan yang dilakukan Prithvi untuk mempersulit perpanjangan izin tinggal Roshni di Indonesia lantaran klaim pengasuhan anak mereka, Akash Prithvi Vaswani Parvani (11) dan Prisha Prithvi Vaswani (3).

Kedua anak itu saat ini sedang di bawah pengasuhan Roshni berdasarkan keputusan Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, setelah Prithvi mengajukan cerai Roshni.

Karena tidak terima, Prithvi kemudian banding di Pengadilan Tinggi DKI Jakarta, dan menurut keterangan Roshsni dan juga kuasa hukumnya, Elza Syarief Law Office yang juga diperkuat dengan bukti-bukti yang ada, ada indikasi kuat terjadi jual beli keadilan selama proses banding di Pengadilan Tinggi DKI Jakarta tersebut.

“Jadi ada aroma permainan hukum yang dimainkan hakim di Pengadilan Tinggi DKI Jakarta dan juga Mahkamah Agung (MA) Republik Indonesia. Imbasnya, hak asuh anak yang tadinya jatuh di tangan ibu Roshni tiba-tiba dibatalkan dan dialihtangankan ke suami yang bejat ini,” papar Gabriel.

Padahal, menurut Gabriel berdasarkan sejumlah bukti dan keetrangan, Prithvi merupakan sosok suami yang tempramen dan kasar terhadap ibu dua anak itu. Bahkan, kekerasan juga dialami anak mereka yang pertama, Akash Prithvi Vaswani Parvani.

“Si anak ini sampai nekat bunuh diri karena trauma terhadap kekerasan sang ayah. Itu diakuinya sendiri oleh sang anak. Jadi ini bukan cerita karangan. Ini fakta, nyata dan berdasar pengakuan anaknya sendiri. Lalu, apa dasar Prithvi mau mengasuh kedua anaknya, sementara ia sendiri adalah sosok yang tidak becus menjadi seorang ayah yang baik untuk anak-anaknya?” ungkapnya.

Atas dugaan keinginan Prithvi untuk mengambil paksa kedua anaknya dari tangan Roshni, ia dinilai Gabriel memainkan taktik jahat melalui cara membiarkan KITAP Roshni habis masa berlaku, dengan begitu pihak Imigrasi punya alasan kuat untuk mendeportasinya.

“Ujungnya di sana. Jadi muara dari permasalahan ini adalah keinginan Prithvi untuk mengambil kedua anak dari tangan Bu Roshni. Sebab, jika beliau dideportasi maka kedua anaknya tidak bisa ikut karena tidak punya alasan kuat untuk membawa, merujuk pada putusan Pengadikan Tinggi DKI yang bias,” sebutnya.

Mengingat permasalahan ini murni permainan sang suami, PADMA meminta agar Imigrasi mencarikan solusi dengan cara membantu menerbitkan KITAS demi menyelamatkan wajah Indonesia di mata internasional, karena kasus ini pasti akan disorot dunia internasional.

“Alih-alih mengambil langkah deportasi, kami minta agar pihak imigrasi perlu mengkaji ulang keputusannya dan membantu menerbitkan KITAS bu Roshni demi menjaga nama baik Indonesia di mata dunia internasional,” pungkasnya. (Sam)

Komentar