oleh

DI MUARA, SAYA DIKUNCI [Kisah Mantan Pendoa]

Oleh: Pater Avent Saur, SVD

(Pendiri Kelompok Kasih Insanis Peduli Sehat Jiwa NTT)

MediaTimor.com– Ketika sentilan bertajuk “Ketika Pendoa Bertobat” saya bagikan melalui broadcast whatsapp, seorang mantan kru organisasi pendoa dengan terus terang mensyeringkan pengalamannya.

“Ah, saya ada pengalaman unik terkait ini,” katanya.

“Cobalah bagikan!” respons saya merayu.

“Dulu, saya pernah ikuti sebuah kelompok doa. Sudah lama, sekitar enam tahun silam, sudah saya tinggalkan,” lanjutnya.

“Lalu?” tutur saya memancing. Tanpa memancing pun, rupanya ia terkesan gereget ingin pengalamannya didengarkan. Sebab sudah sekian lama ia pendam dalam-dalam di relung hatinya.

*Ajakan Teman*

Berikut, adalah syering pengalaman sang mantan.

“Saya diajak oleh teman. Yuk ikuti kelompok doa. Doa apa? Ah, ikuti saja.”

“Di kedalaman hati, saya berbisik, ini saatnya saat mendoakan banyak orang, lebih intensif mendoakan orang sakit. Saya pun bangga menjadi bagian di dalam kelompok doa.”

“Berikutnya, saya dikabarkan untuk kegiatan doa. Ini pertama kali. Kami berkumpul di suatu tempat. Seingat saya, hari itu Jumat, pukul 17.00. Ya kelompok ini berdoa setiap Jumat, mulai pukul sekian. Sore hingga remang-remang tiba, bahkan malam.”

“Saya pun daftarkan diri sore itu. Banyak orang ikut serta. Setelah pemimpin kelompok berikan satu dua arahan kepada saya sebagai anggota baru, kami semua diarahkan menuju sebuah tempat. Menuju tempat biasa, katanya.”

“Di mana, coba? Di pantai. Di muara. Saya kira berkumpul di tempat tadi untuk berdoa, padahal tidak.”

“Saya pun bertanya-tanya dalam hati, kok berdoa di muara? Sore sampai malam hari lagi. Kenapa tidak berdoa seperti yang dilakukan oleh orang-orang pada umumnya dalam agama kita. Kita semua kan umat dari satu agama. Ok, saya ikuti saja. Sekalipun penuh tanda tanya.”

*Makin Heran*

Lanjutnya lagi. “Saya kok makin heran. Kenapa? Kami berkumpul, membentuk lingkaran. Mau doa, tetapi sarana-sarana rohani tidak ada. Masa doanya begini?”

“Di tengah lingkaran itu, beberapa lelaki gagah perkasa berdiri tegap. Katanya, mereka memiliki tenaga dalam luar biasa.”

“Ketika mendengar kata tenaga dalam, saya sontak kaget. Ahhh…mati sudah saya ini. Saya tidak punya tenaga dalam. Kok berdoa pakai tenaga dalam?”

“Saya pun berbisik ke teman sebelah. Bagaimana sudah saya ini? Ya kita latihan pernapasan terlebih dahulu. Aduh, saya sesak napas ni. Bagaimana sudah?”

“Kita mau latihan pernapasan dulu, lalu sebentar kita pembiasan. Pembiasan? Tanya saya dalam hati kaget ketika mendengar kata yang asing itu.”

“Pembiasan, katanya, kita kumpulkan tenaga. Tarik napas, lalu kumpulkan tenaga di bawah pusat. Bukan di pusat. Di bawah sedikit. Tidak terlalu bawah.”

“Saya coba tarik napas dan kumpulkan di bawah pusat, tetapi tidak pernah terkumpul sedikit pun. Napas saya jadi sesak rasanya.”

“Saya kurang tahu, apakah kawan-kawan lain bisa kumpulkan napasnya di bawah pusat atau tidak. Saya bergumul, bergelut, kok berdoa sampai tahan napas segala, sampai tubuh kaku, sampai urat-urat tegang?”

“Doa mestinya singkat, padat, dan jelas seperti kata penulis Kitab Suci. Sebab yang saya tahu adalah sebelum kita berdoa pun, Tuhan sudah tahu maksud kita. Sebab Tuhan itu kan Mahatahu.”

“Praktik ini sama sekali sudah di luar kebiasaan doa umat pada umumnya. Namun saya tetap berjuang untuk kumpulkan napas di bawah pusat. Berjuang terus dan terus, tetapi tak pernah merasa napas terkumpul.”

“Malam pun tiba. Kami semua pulang ke rumah masing-masing. Namun saya tetap penasaran, apa yang kira-kira bakal mereka lakukan pada waktu selanjutnya. Maka saya terus ikut selama beberapa kali Jumat. Hari yang sama, waktu yang sama.”

“Namun apa yang dikehendaki pemimpin kelompok doa itu tak pernah saya capai. Napas tak terkumpul di bawah pusat. Yang pemimpin doa tahu, saya mencapai apa yang ia kehendaki.”

“Kami tidak pernah berdoa. Kadang sih berdoa. Lebih banyak latihan penapasan. Latihan tenaga dalam. Kumpulkan napas di bawah pusat. Ahhh…”

*Ini Menarik*

“Suatu Jumat, sebuah keluarga bawa satu orang sakit ke muara, tempat kami latihan pernapasan. Dan saya sangat senang. Sebab saya sangat penasaran, bagaimana para senior menyembuhkan orang sakit.”

“Pemimpin kelompok menghadap si sakit dan memegangnya. Ia menekan dahi si sakit dengan memakai benda rohani terbuat dari baja. Si sakit pun berteriak. Tekan terus. Ya sakitlah. Makin kuat ia menekan, tentu makin sakit.”

“Awalnya, ia tekan ibu jari si sakit pakai jari. Tetapi karena mungkin merasa kurang kuat, lalu ia tekan pakai bahan baja itu. Lalu si sakit berteriak histeris, dan menjadi lemah serta lemas. Kata teman-teman, si sakit tak sadar lagi.”

“Lalu pemimpin tanya, Anda siapa? Saya kok heran, kalau pemimpin tahu itu roh jahat atau penjahat, atau perasuk, mestinya dia tahu namanya. Atau kalau pemimpin tahu itu roh jahat, ia tak perlu tahu namanya. Tinggal usir saja ya urusan selesai.”

“Si sakit tidak beritahu nama. Ia omong macam-macam, tak keruan. Ia tampak melawan pemimpin doa itu. Ia dipukul habis-habisan, digebuk. Kasihan sekali. Saya nonton saja, ingin lihat apa yang terjadi detik demi detik, dan menunggu hingga praktik itu berakhir.”

“Selain pemimpin, para pendoa senior lainnya mulai beraksi dan berbicara. Katanya, di antara pendoa itu, ada yang tahu bahwa roh si sakit sedang disembunyikan iblis di sebuah gunung. Jauh sekali. Di gunung itu ada kali kecil. Mungkin kali mati.”

“Ah, mereka jago sekali. Begitu kata saya dalam hati. Kok mereka bisa tahu ya.”

“Saya ikuti dengan saksama. Fokus, penuh perhatian. Tiba-tiba pemimpin minta dua orang senior untuk mati raga. Dua orang itu tidur telentang. Beberapa detik kemudian, katanya, dua orang itu tidak sadar lagi. Dan katanya lagi, mati raga adalah jalan roh. Jalan roh, gaeeeyssss….”

“Jalan roh, maksudnya? Roh dua orang itu meninggalkan tubuh mereka. Roh itu keluar dan berjalan menuju TKP di mana roh si sakit disembunyikan atau disekap. Roh dua orang itu pergi untuk mengambil roh si sakit pulang ke tubuhnya.”

“Beberapa menit kemudian, dua orang itu bangun. Katanya, mereka telah membawa pulang roh si sakit dengan cara menggenggam. Lalu si sakit juga jadi sadar kembali. Tenaganya terkuras. Lemah dan lemas.”

“Namun ia tetap sakit. Kok tidak sembuh? Saya makin heran. Padahal mereka tadi sudah gebuk, pukul-pukul. Malam pun tiba, kami bubar. Tanpa berdoa. Hehehe…. pendoa tetapi tidak berdoa. Latihan napas, cukup. Itulah doa.”

*Ilmu Kunci*

“Ini tentang ilmu kunci. Suatu hari saya merasa sakit. Saat Jumat, rutin, saya hadir lagi di TKP, lalu saya sampaikan keluhan saya.”

“Seorang pendoa senior mendekati saya. Menekan ibu jari tangan dan ibu jari kaki saya pakai jari tangan mereka. Ya sakit sekali. Saya teriak. Beberapa pendoa lain memegang saya. Waspada saya berontak dan lari.”

“Saat tekan-tekan dan pegang-pegang, mereka bilang, roh jahat di dalam diri saya pasti sangat jago. Mereka tekan-tekan terus. Saya teriak terus karena sakit.”

“Dalam hati, saya bilang, syukur bahwa roh jahat di dalam diri saya lebih jago daripada para pendoa senior. Tenaga roh jahat saya lebih kuat daripada tenaga dalam para pendoa senior.”

“Saya lihat mereka melototi saya. Lama-kelamaan, mereka tampak melongo. Lalu, katanya, saya ini biasa-biasa saja.”

“Ya saya biasa sajalah. Ya saya masih sadarlah. Saya teriak karena ibu jari tangan dan kaki saya ditekan kuat-kuat.”

“Lalu, katanya, mereka mengunci saya agar roh jahat tidak masuk ke dalam diri saya. Setiap anggota harus dikunci. Sebagai anggota baru, saya harus dikunci gitu lho…”

“Nah kapan saya tinggalkan kelompok doa itu? Dan kenapa?”

“Suatu hari, mama saya sakit berat. Ia dirujuk ke RSUD Maumere. Para pendoa senior heran kok Mama dibawa ke rumah sakit? Kenapa mama tidak dibawa ke kelompok doa supaya didoakan? Saya anggota kelompok doa kok malah bawa mama ke rumah sakit? Mestinya didoakan saja. Pasti ada roh jahat di dalam diri mama. Jadi mereka semua heran atas sikap saya.”

“Sekian lama, saya menemani mama hingga pulih. Saya pun bersyukur, melalui mama, saya memiliki alasan untuk tidak hadir di TKP. Seandainya mama tidak sakit, saya tidak memiliki alasan yang cukup kuat untuk tinggalkan kelompok doa itu.”

“Pemimpin dan anggota kelompok doa itu adalah orang-orang yang saya kenal baik. Makin akrab ketika saya bergabung pada kelompok itu. Namun sejak saya tinggalkan kelompok doa itu, mereka tidak lagi berbaik pada saya. Saya tegur saat berpapasan di jalan pun, mereka tak merespons sedikit pun.”

“Yang saya baca pada perilaku mereka adalah bahwa mereka tampak angkuh lantaran unggul, lantaran memiliki kelebihan ilmu tenaga dalam, lantaran melatih kumpul tenaga di bawah pusat.”

“Dalam perilaku hidup mereka sehari-hari, mereka meremehkan umat lain yang berdoa serius di rumah-rumah ibadah. Sebab mereka berpikir bahwa sekalipun umat lain berdoa serius, toh roh jahat tetap masuk ke dalam diri umat. Umat hanya berdoa serius, tetapi dirinya tidak dikunci dari serangan roh jahat.”

“Nah, saya pernah menanyai diri saya, kapan kunci diri saya dibuka? Saya buka sendiri saja. Hehehe….”

*Makna Mantan*

“Ada satu hal inti yang menjadi buah dari pengalaman-pengalaman ini untuk kehidupan rohani saya. Apa? Bahwa saya mesti bersikap rendah hati di hadapan Tuhan dan sesama. Bahwa saya mesti berdoa serius sesuai ajaran agama yang saya anut.

“Bahwa saya tidak perlu masuk ke kelompok doa apa pun, kecuali kelompok doa yang sudah sah disetujui pemimpin agama saya, yang pandangan teologi dan praktik-praktik doanya tidak menyimpang dari ajaran resmi agama saya. Itu pun saya tidak harus bergabung di dalamnya.”

“Bahwa saya bisa berdoa di rumah bersama keluarga kecil saya. Bahwa saya harus berdoa dengan umat lain di rumah ibadah bersama pemimpin agama saya.”

“Bahwa saya harus terus belajar mendalami agama yang saya anut sebab masih banyak hal yang saya belum tahu tentang ajaran agama saya. Bahwa betapa pun besar kuasa roh jahat, kuasa Tuhan tetap lebih besar dan lebih kuat, tanpa saya harus melatih tenaga dalam di muara itu.”

“Bahwa saya harus mengalami sakit apa pun jenisnya sebab tubuh saya rapuh, sebab mental saya rapuh.”

“Bahwa saya juga memiliki kerapuhan moral yakni pasti berbuat kekeliruan dan kesalahan. Saya pasti berdosa, sebab saya adalah manusia yang memiliki kekurangan dan keterbatasan.”

“Ketika saya berdoa, saya yakin Tuhan mendengarkan saya. Tuhan mengabulkan doa saya atau tidak, itu urusan Tuhan.”

“Ketika saya berbuat dosa, saya harus menyesal dan terus membarui diri agar menjadi umat beriman yang makin baik dari waktu ke waktu. Dan saya yakin, Tuhan yang Mahakasih dan Maharahim akan mengampuni saya dan memberikan kekuatan kepada saya dalam menghadapi masalah apa pun dalam ziarah hidup di dunia fana ini.”

“Bahwa saya yakin, kalau saya sakit, saya harus ke rumah sakit, sambil berdoa agar proses pemulihan kesehatan saya berjalan baik hingga pulih. Kalau pun tidak pulih, dan saya harus mati, saya yakin bahwa saya mati dalam iman yang kuat akan kasih Tuhan yang menerima saya di dunia abadi. Saya pun yakin bahwa saya berbahagia bersama Tuhan di surga kelak.”

Pada akhir syering, dia mengucapkan terima kasih sebab kita telah mendengarkan curahan hati dan curahan imannya.

Salam sehat jiwa dan salam sehat dalam beriman kepada Dia yang berkuasa atas semua kekuasaan dan kekuatan di bumi dan di bawah bumi serta di bawah kolong langit dan di atas langit, serta berkuasa atas semua kekuasaan dan kekuatan yang tidak kelihatan dan yang kelihatan.

Amin.
_____
Avent Saur
Ende, 13-1-2022

Komentar