oleh

Terima Penghargaan sebagai Perintis Lingkungan oleh Kementrian Lingkungan Hidup, “Mama Sorgum” Maria Loretha: “Ini Kado Istimewa Tahun 2021”

FLORES TIMUR, MediaTimor.com– Nama Maria Loretha atau yang akrab dikenal dengan sapaan “Mama Sorgum” merupakan sosok perempuan tangguh, berkomitmen, pekerja kerasa dan sosok utama perintis tanaman Sorgum di daerah Flores Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT)

Sejak tahun 2004, Maria Loretha bersama dengan suami dan lima anaknya mulai menanam Sorgum.

Kemudian pada tahun 2007, Maria Loretha berhasil membudidayakan sorgum dan menularkannya pada warga di Dusun Likotuden, Desa Kawalelo, Kecamatan Demon Pagong, Kabupaten Flores Timur (Flotim).

Usaha dan kerja keras Maria Loretha agar sorgum kembali menjadi pangan masyarakat lokal terus berkembang ke berbagai daerah di Provinsi NTT.

Berkat kegigihannya, Maria Loretha berkali-kali diganjar pengghargaan; baik di tingkal lokal, nasional, maupun internasonal.

Teranyar, pada peringatan Hari Konservasi Nasional (HKN) yang mengusung Tema ‘Bhavana Satya Alam Budaya Nusantara, memupuk kecintaan pada alam dan budaya nusantara’ di penghujung tahun 2021, Maria Loretha kembali menerima penghargaan sebagai “Perintis Lingkungan” oleh Direktorat KSDAE Kementrian Lingkungan Hidup (KLH).

“Tidak pernah terpikirkan di penghujung tahun, di tengah pandemi global yang melumpuhkan hampir seluruh lini kehidupan, saya boleh menerima kado istimewa pada saat Hari Konservasi Nasional 2021 di Kupang,” ujar Maria Loretha bangga usai menerima penghargaan saat dikonfirmasi media ini, Senin (3/1/2022).

“Mama Sorgum” Maria Loretha mengaku ia hanya mampu melakukan pekerjaan kecil sebagai rasa cinta untuk membalas seluruh kebaikan alam di bumi NTT, khususnya Flores dan Kepulauan; atas potens alam, tanah, air, makanan dan keindahan alam yang kaya dan luar biasa.

Maria Loretha mengajak, di tengah upaya mengatasi krisis akibat pandemi dan perubahan iklim, maka hormat atas Hak alam, cinta satwa dan keanekaragaman puspa harus menjadi komitmen bersama.

“Keterlibatan masyarakat adat perlu ditingkatkan, budaya dan kearifan lokal harus menjadi modal utama dalam mengatasi krisis akibat pandemi dan perubahan iklim. Mari berubah untuk hidup lebih lestari,” ajak wanita 49 tahun ini.

Revolusi Mental dan Tanggung Jawab Ekologis

Menyinggung Revolusi Mental dalam konteks tanggung jawab ekologis, Maria Loretha menegaskan bahwa Revolusi Mental merupakan spirit perubahan yang harus dimulai dari diri sendiri.

“Kita tidak bisa menunggu orang lain mengubah diri kita, tetapi perubahan harus dimulai dari diri sendiri melalui tindakan nyata yang dapat menginspirasi kemajuan dan kebaikan bersama,” katanya.

Ia menegaskan bahwa tanggung jawab menjaga dan merawat alam dan lingkungan agar tetap lestari harus menjadi tanggung jawab bersama semua pihak dan harus diwujudkan melalui gerakan nyata.

“Alam lingkungan harus menjadi RUMAH BERSAMA yang harus dirawat, dijaga dan dilestarikan keberlangsungannya. Alam harus menjadi jaminan hidup manusia, bukan semata objek kepentingan. Hak asasi manusia adalah juga hak asasi alam,” tutupnya.

Penulis Media Timor News

Gambar Gravatar
Bersama pemerintah provinsi maluku mari kita kerja sama membangun maluku

Komentar