oleh

Ketua LPA-Indonesia: Kasus Roshni Itu Anak Lebih Memilih Ibunya

JAKARTA, MEDIATIMOR.COM – Ketua Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPA-Indonesia), Seto Mulyadi mempertegas sikap lembaganya terkait hak anak dalam kasus perseteruan hak asuh antara Roshni Lachiram Parvani Sadhwani dan suaminya Prithvi Suresh Vaswani.

“Dari sejak awal, ketika mereka berdua dengan anak kita ketemu, sudah saya sampaikan bahwa anak harus bisa dilayani dengan baik. Dan sebagai seorang professional psikolog, pendekatan hukum terhadap anak juga harus didampingi para professional sehingga anak tidak merasa terganggu dalam proses hukum itu”, ungkap Seto Mulyadi dalam wawancara melalui telefon selularnya, selasa (16/11).

Menyinggung tentang kesan pertama dalam pertemuan pertama kali bersama LPA-Indonesia apakah anak lebih memilih siapa diantara kedua orang tua itu, Seto Menegaskan kalau anak lebih memilih ibunya.

“Secara psikologis, saya lihat anak lebih memilih ibunya dalam pertemuan itu. Dan, saya mau sampaikan pernah “ditawarin” sesuatu dari pihak ayah, namun selalu saja saya tegaskan “Saya tidak bisa dibayar kalau bicara soal masalah anak”, tegas Seto dalam komunikasi Bersama mediatimor.com.

Seto juga menjelaskan, proses hukum yang sedang berjalan baiknya bisa mendengarkan suara anak dalam perkara ini. Sebab, anak akan lebih menentukan siapa yang bisa ia bersama. Perseteruan hukum antara Roshni dan Prithvi tidak harus anak menjadi korban.

Diberitakan media ini sebelumnya, Advokat Elza Syarief saat menggelar konferensi pers sehubungan kasus kliennya, Roshni pada Senin kemarin. Dalam penyampaian data video yang dibuka kepada awak media, terlihat jelas ada Tindakan kekerasan yang terjadi baik kepada ibu maupun sikap keras kepada anak mereka.

Dalam pandangan Lembaga Perlindungan Anak Indonesia, kasus ini membuat trauma kepada anak sehingga baiknya apa yang dialami dan dirasakan oleh anak mereka menjadi dasar atas proses hukum itu.

“Sejak awal saya selalu ingatkan bawha saya tidak berbicara karena ayah atau ibunya, tetapi saya berbicara dasarnya pada itu aja. Karena itu, baiknya hukum harus bisa ditegakan dengan mendengar apa yang anak mereka sampaikan”.

Komentar