oleh

Kepentingan SDA Wilayah Timur Jadi Alasan Usung Cawapres

Freni Lutruntuhluy

RASA – rasanya Pemilihan presiden RI sudah ada di depan mata kita, karena hampir setiap harinya banyak berita yang berseliweran di media-media online tentang siapa figure pemimpin masa depan. Beberapa Lembaga survey telah merilis calon-calon potensial yang saat ini memiliki elektabilitas signifikan. Sorotan saya kali ini adalah jangan memilih pemimpin yang tidak pro terhadap persoalan sumber daya alam di wilayah Timur Indonesia. Para elit politik kita selama ini lebih banyak berkolaborasi dengan negara-negara yang telah memiliki investasi besar di Kawasan Timur Indonesia. Mereka menguasai seluruh sumber daya alam dengan menutup kepentingan asing di wilayah ini. Rakyat kita yang tidak mengerti politik “disandera” dengan iming-iming balas jasa dan hal itupun dinikmati hanya para elit-elit politik local kita.

Barangkali tulisan saya ini lebih kepada bagaimana wilayah Timur Indonesia ditempatkan sebagai Kawasan strategis yang harus diperhitungkan dalam perhelatan politik pilpres untuk menjagokan figure calon presiden dan wakil presiden pada 2024 mendatang. Apakah wakil presiden dari Papua, Maluku, NTT atau daerah timur lainnya.

Mengapa saya katakan seperti itu? Mengapa tidak? Selain karena konstitusi mengijinkan itu, Indonesia hari ini juga menaruh masa depannya di wilayah Timur yang selama ini kita ketahui kalau sudah dikuasai asing. Ini sesuatu yang harus dipikirkan matang oleh para elit wilayah Timur dan ras Melanesia. Hal yang harus diperhatikan adalah mengapa sampai hari ini desakan rakyat dari arus bawah di wilayah timur kian meningkat? Semua ini kalau bukan soal SDA yang telah dirampok oleh asing. Saya mencontohkan misalkan saja Blok Masela di Maluku yang sampai hari ini masih di tantang habis-habisan oleh Sebagian besar kelompok masyarakat, belum lagi persoalan tambang di Papua atau maluku utara.

Peta politik Amerika Serikat di Indonesia jika dilihat dari investasinya, maka AS merupakan salah satu pemain utama di Indonesia. Tentu masyarakat sangat familiar dengan Freeport McMoran, perusahaan tambang yang mengelola lahan di Tembagapura, Mimika, Papua. Selain Freeport, masih ada Newmont, perusahaan asal Colorado, Amerika, yang mengelola beberapa tambang emas dan tembaga di kawasan NTT dan NTB. Tahun lalu, setoran perusahaan ke pemerintah mencapai Rp 689 miliar, sudah mencakup semua pajak, dari keuntungan total mereka.

Jika kemudian Politik global Amerika Serikat menilai hubungan Indonesia dengan Tiongkok dapat mengganjal kepentingan mereka, bukan tidak mungkin di Pilpres 2024 nanti Paman Sam akan memberikan dukungan terhadap kandidat yang tidak pro-Tiongkok. Ini peta dimana Amerika bisa melakukan apa saja di Indonesia termasuk menentukan siapa pemimpin kita kedepannya. Oleh sebab itu, adalah wajar jika Figur dari wilayah Timur pantas diperhitungkan dalam pilpres kali ini.

Ada Keinginan Besar Cawapres Dari Wilayah Timur

Dari pengalaman saya menuliskan berita-berita politik tentang pemilu, khususnya Calon Presiden dan Wakil Presiden, baru pada tahun 2021 aroma dan tensi politik capres di 2024 berbeda. Apa yang berbeda disana? Dapat saya gambarkan kalau alasan ketertinggalan wilayah timur Indonesia dan potensinya menjadi dasar perjuangan putera-puteri terbaik mereka.

Selama ini, banyak perjuangan dari rakyat wilayah timur untuk masuk jajaran kabinet, namun perjauangan itu tidak maksimal, khususnya keinginan untuk menempati posisi strategis agar dapat mengelolah dan mengontrol secara baik pengelolaan SDA disana.

Nah, kali ini, ternyata bukan saja perjuangan untuk masuk ke cabinet Jokowi, melainkan tawar-menawar dilakukan ketika hari ini Indonesia menggantungkan masa depan rakyat di Kawasan timur namun harus mempertimbangkan potensi figure untuk masuk dalam bursa calon presiden. Suka tidak suka, terpaksa harus suka.

Pada pencapresan di tahun 2024 ini, barangkali dengan berdasar pada semangat dan dengan melihat realitas wilayah timur Indonesia yang masih tertinggal itu, rasa dan solidaritas itu mulai menguat untuk figure wilayah Timur masuk dalam pencapresan nanti. Ini sangat tergantung bagaimana kemampuan lobi-lobi politik Kawasan Melanesia dan asia pasifik.

Mencermati komunikasi Direktur Eksekutif Poltracking Indonesia Hanta Yuda yang menyatakan terdapat tiga jalur capres 2024, yakni dari kepala daerah, menteri, dan politikus. Hal ini menurutnya mengacu temuan survei elektabilitas capres yang dilakukan Poltracking Indonesia. Ia juga menyebut bisa mengarah kepada ketua umum partai yang barangkali mendapat sorotan publik dan dapat dikapitalisasi sebagai eskalator politik untuk capres 2024.

Pernyataan ini cukup membuka alasan bagaimana rivalitas pencapresan kali ini sudah berjalan cukup instan. Artinya, selain scenario politik itu bisa diatur, tetapi ada ruang bagi kepala daerah dan elit partai ini sangat baik untuk bagaimana menempati posisi strategis di perhelatan ini.

Dengan melihat euphoria politik kita hari ini, dan melihat problem Kawasan Timur Indonesia yang hari ini masih tertinggal jauh, maka bukan tidak mungkin dengan alasan itu, Kawasan Melanesia harus diperhitungkan secara hati-hati dalam konstelasi politik 2024 nanti.

Komentar