oleh

Tanpa Oligarki, Bangsa ini akan Bangkit dan Memimpin Dirinya Sendiri

SEMENJAK pulau Papua dirambah oleh kedatangan bangsa lain, berbagai peninggalan membekas di benak orang Papua. Seakan keluar dari kegelapan, pesan atau nubuat yang bermanfaat bagi orang Papua, dipelihara hingga kini. Salah satunya, doa sulung, pendeta Ishaak Semuel Kijne.

Oleh: Arkilaus Baho

Penginjil dari Jerman itu, mengabadikan sisa hidupnya di bumi Papua. Wasior, 25 Oktober tahun 1925 silam, Doa Sulung Pdt. Ishak Semuel Kijne “Di atas batu ini, saya meletakan Peradaban Orang Papua. orang memiliki kepandaian tinggi, akal budi dan marifat tetapi tidak dapat memimpin bangsa ini, bangsa ini akan bangkit dan memimpin dirinya sendiri”

Bangsa ini (Papua), akan bangkit dan memimpin dirinya sendiri. Itulah doa, ingatan rohaniah yang direfleksikan oleh seorang penginjil tua. Nubuat tersebut bukan hanya kata-kata belaka. Semenjak kiprahnya di Wasior Wondama, sekarang Provinsi Papua Barat, Ishaak Semuel Kijne membuka sekolah penginjilan. Mengajar membaca dan tulis kepada penduduk sekitarnya. Dari sekolah tersebut, banyak anak didiknya yang kemudian hari bangkit memperjuangkan hak-hak orang Papua.

Bukan hanya baca tulis, tapi arti kekristenan yang hakiki, cinta kasih sesama umat, saling mengasihi. Kian tahun, Papua digubah dari pertikaian, perang saudara, kebencian, saling sirik, berdamai dengan dirinya, kaumnya, sukunya bahkan bangsanya. Nubuat tersebut kini digenapi.

Sembilan puluh enam tahun pasca nubuat itu, “Aku Papua” kini membahana. Spirit atas cinta akan negerinya sendiri, meluas hingga ujung dunia. Kini Papua dikenal sebagai negeri kaya raya, daerah eksploitasi SDA menggiurkan, negeri tiada henti konfliknya, negri yang sering terjadi pelanggaran HAM dan hak, negri dimana orang-orangnya dicurigai separatis, dianggap terisolasi, terluar dan terbelakang. Negeri itu sudah berjalan otonomi khusus dalam bingkai NKRI.

Saya teringat di akhir tahun 2019, ketika itu kami sosialisasikan resolusi permanen kepada para pejuang di hutan, yang mengangkat senjata melawan pemerintah Indonesia. Kami diskusikan resolusi permanen untuk Papua. Melalui restrukturisasi kelembagaan politik, Dewan Rakyat Papua (DRP). Kami sependapat, jika pemerintah setuju dengan DRP, maka tugas orang Papua selesaikan konflik tanpa repot-repot pemerintah datang ke Papua. Biarkan kami yang menyelesaikan apapun masalahnya yang terjadi di Papua. Sebab, kami diberikan hak dan kewenangan, dimana keterwakilan tiap marga sudah mewakili basis paling bawah.

Bangkit dan memimpin dirinya sendiri, melalui filosofi hidupnya, nilai-nilai Pancasila yang sudah menjadi pedoman hidup, baik dalam berdemokrasi (para para adat, rumah adat, dll), pendidikan, kepercayaan, maupun tentang tanah, hutan, air, gunung dan lembah. Disitlah esensi bangkit untuk dirinya, bukan demokrasi import, bukan ekonomi yang dikuasai segelintir orang, bukan pula pemilu transaksional bikinan oligarki, tapi strategi kebudayaan orang Papua menjadi pijakan untuk bangkit dan memimpin dirinya sendiri.

Penulis salah satu Juru Bicara DPP PRIMA yang konsen khusus soal Papua dan Papua Barat

Komentar