oleh

Tingginya Persaingan Media Visual Berbasis Website di Indonesia

EDITORIAL

Oleh. Freni Lutrun (Creator Indonesia)

Saya, Freni Lutrun, nama yang sering disebut oleh rekan-rekan saya di dunia media online. Saya lahir di Maluku, persisnya di Desa Sera, Pulau Lakor.

Kali ini saya mencoba menuliskan sedikit pengalaman ketika mengikuti perkembangan media di tanah air, barangkali cukup ditulis mulai sejak awal tahun 2000an.

Saya awal tahun itu masih mahasiswa, aktif di berbagai organisasi dan cukup sering menulis di majalah dinding. Di era itu orang belum mengenal atau familiar dengan namanya website atau media-media online (meskipun sudah ada beberapa media online yang pertama di Indonesia, seperti Antara, Kompas dan beberapa lainnya), tetapi di pasaran, dominasi ini masih di kendalikan koran dan majalah.

Seiring waktu, kemudian kita diperhadapkan dengan bermunculan media-media online yang dibuat khusus untuk menyajikan berita, termasuk saluran Youtube dengan konten visualnya, meskipun masa itu belum terasa pengaruhnya seperti saat ini, namun dalam pengalaman itu kemudian kita ditantang untuk berselancar mengguluti seberapa pengaruh.

Berjalannya waktu, dinamika ini berubah dengan sendirinya, khusus dalam bidang produksi berita. Banyak dari rekan-rekan pernah saya sampaikan kepada mereka bahwa dengan hadirnya media online termasuk hadirnya saluran Youtube, maka kemungkinan besar akan terjadi persaingan bisnis besar di Indonesia khususnya bagaimana cara yang cepat menyajikan berita atau banyak orang mencari alternatif memperoleh informasi, dan peradaban baru itu kemudian terjadi dan kita dipaksa untuk belajar mengikuti perkembangan zaman itu.

Sebelum tahun 2010, banyak media online berhasil menjadi buah karya sendiri dan itu dipakai sebagai sarana menyampaikan berita kepada public. Proses ini terus berjalan, hingga sampai sekarang hampir 100 media online (website) di Indonesia dari Aceh sampai Papua menjadi karya saya.

Terlepas dari itu, jika dilihat dari peran dan fungsi media, maka oleh Undang-Undang kita (khususnya pekerja pers) juga diwajibkan mengolah data dalam bentuk tulisan, video, gambar, graphic, dan ilustrasi serta menyampaikan kabar/berita itu kepada public melalui berbagai saluran, ada koran (masa itu), televisi dan radio (pada eranya), dan sekarang trand dengan website atau media online atau menggunakan aplikasi sebagai sarana mereka.

Mencermati makin tingginya media-media online di Indonesia, hal ini tentu akan berdampak serius terhadap mengembangkan sayap bisnis mereka dengan memaksimalkan jalur sosial media seperti fanpage Facebook, Twiter, Instagram, Youtube dan lainnya, karena hanya dengan cara ini, bisnis media bisa bertahan. Gaya menyajikan konten itupun macam-macam, bahkan bisa menyaingi media-media terdahulu apalagi produksi konten visual yang baik dan memenuhi kebutuhan pelanggan.

Youtube misalkan, adalah saluran/channel yang saat ini dipakai sebagai satu-satunya penyajian berita visual yang paling ampuh dan bersaing di era sekarang ini. Rekan-rekan mediapun dengan mudah menggunakan saluran ini sebagai sayap bisnis dan mereka bisa bertahan. Ada pertanyaan kepada saya, apakah menggunakan saluran Youtube sebagai channel visual (sayap bisnis media online/website) yang dikemas seperti karya jurnalistik televisi bisa dikategorikan sebagai produksi jurnalistik? Saya menjawabnya tentu ia. Kemudian apakah misalkan mereka menggunakan saluran itu sebagai TV channel/Tv online mereka diijinkan?, saya jawab ia. Sebab saluran youtube atau facebook dan lainnya itu adalah sayap bisnis media.

Kemudian apakah mereka harus dipaksakan menggunakan regulasi Undang-Undang Penyiaran? Tentu tidak. Apakah mereka dipaksakan berurusan dengan Komisi Penyiaran? Tentu tidak. Alasannya sederhana saja, bahwa dalam peran dan fungsi mereka sebagai pelaku pers, berbagai data yang diperoleh bisa diolah dan dikemas sebagai karya jurnalistik yang layak di konsumsi public. Artinya, bukan soal seperti apa bentuk atau ciri-ciri kontennya, tetapi yang dilihat mestinya soal mutu atau kelayakan konten itu.

Nah, terlepas dari semua itu, memang belum ada regulasi yang lebih tegas apalagi soal penayangan berita visual khususnya bagi media-media yang berbasis pada website yang menggunakan saluran sosial media seperti Youtube dll. Lihat contoh mangapa perkara Undang-Undang Nomor 32 tahun 2002 tentang penyiaran itu kemudian Mahkama menolak kelompok yang menggugat pasal-pasal yang barangkali saya bisa katakan mengganggu market bisnis media-media tertentu. Itu sebabnya mengapa Kementerian Komunikasi dan Informatika diminta untuk mengatur regulasi yang lebih konprehensif untuk kepentingan banyak orang. Sebab semua ini tentang nasib rakyat yang menggantungkan hidupnya di era digital saat ini.

Pada sisi lainnya, kita harus bisa merubah pemahaman tentang pertelevisian di era ini. Misalkan memahami televisi Internet atau televisi daring adalah situs web yang memiliki tayangan video yang terkonsep, selalu diperbaharui terus-menerus, tidak statis, mengikuti perkembangan peristiwa yang terjadi di lingkungan sekitar, dan bisa diakses oleh publik secara bebas, dengan berbagai macam bentuk pendistribusiannya. Pada posisi inilah, media-media yang lahir tidak dalam semangat pertelevisian tetapi mampu mengembangkan pemberitaan visual yang memiliki pengaruh sama seperti penayangan berita-berita televisi lainnya bisa merubah market bisnisnya. Artinya bahwa ruang ini telah menjadi persaingan berat dalam segi bisnis media khususnya pada konten visual.

Akademisi Ilmu Komunikasi Universitas Indonesia, Ade Armando dalam berita yang ditulis Antara pada 2020 lalu menyebut undang-undang nomor 32 tahun 2002 tentang penyiaran perlu dilakukan revisi untuk mengatur siaran melalui internet. Bukan menguji sejumlah pasal saja. Ade Armando adalah salah satu ahli yang dihadirkan dalam menguji Undang-Undang tersebut di Mahkaman Konstitusi.

Pada era sekarang, dengan teknologi yang terus berkembang pesat mengubah cara pandang kita tentang semua ini.

Fren Lutrun (Creator Indonesia ) 081286262117

Komentar