oleh

Natalius Pigay: Bisa Saja Aktor Politik Sebagai Otak Peristiwa Kiwirok

Pengantar: Eskalasi konflik Papua dan Papua Barat bisa dilihat dalam beberapa sudut pandang. Bisa dari diskriminasi dan rasialisme, pembangunan yang belum mengangkat kesejahteraan orang asli Papua, pelanggaran HAM serta soal status dan sejarah politik Papua.

Jika kemudian ditarik lebih jauh perspektif pembangunan dan kesejahteraan, maka Korupsi, Kolusi dan Nepotisme menjadi akar masalah yang selama ini di abaikan oleh negara yang berakibat tumbuh subur benih kebencian itu di hati rakyat.

Peristiwa yang terjadi di Kiwirok Kabupaten Pegunungan Bintang pada 13 september 2021 hingga kini masih menjadi tanda tanya besar sebagian kalangan karena cenderung informasi mengular kemana-mana dan memunculkan persepsi yang berbeda. Catatan Natalius Pigay, putera Papua dan Mantan Komnas HAM ini menduga, bukan tidak mungkin persoalan politik yang melatarbelakangi kejadian ini.

JAKARTA – Dugaan adanya pengakuan para tenaga kesehatan yang mengaku mereka sangat mengenal baik para pelaku peristiwa di Kiwirok bisa menjadi celah membongkar actor intelektual peristiwa Kiwirok, selain itu juga bisa diduga kuat dilakukan oleh aktor politik.

Catatan Natalius Pigai, seorang aktivis kemanusiaan dan mantan Komnas HAM itu dalam pesan penting yang sempat diperoleh media ini pada 26 september 2021, menuliskan beberapa point pada asas praduga tidak bersalah:

  1. Kematian Nakes karena ditembak mati oleh KKB
  2. Tenaga Kesehatan Mati karena masuk jurang yang memang terjal saat melarikan diri.
  3. Tenaga kesehatan mati karena dianiaya
  4. Dokter Pegang Senjata dan diduga menembak mati 1 Anggota TPN/OPM
  5. Ada warga sipil ikut bakar rumah sakit
  6. Adanya warga ikut Bakar Rumah Sakit diduga ada aktor sipil yang bermain
  7. Adanya pengakuan Para Nakes bahwa mereka sangat mengenal baik para pelaku
  8. Tenaga Kesehatan yang dinyatakan hilang menyatakan ada bunyi tembakan dari dalam rumah sakit.
  9. Asosiasi Kesehatan melaporkan peristiwa Nakes ke International
  10. Komnas HAM RI tidak menyebut aktor pelaku.
  11. Bisa saja dilakukan oleh aparat karena kepentingan tertentu.
  12. Bisa saja aktor politik sebagai otak dibalik peristiwa kiwirok
  13. Bisa saja murni dilakukan oleh TPN/OPM.

Catatan Natalius Pigay ini dibuatnya menyusul Urgensi Pembentukan Tim Gabungan Pencari Fakta Peristiwa Kiwirok 13 September 2021.

“Jika dari awal aparat tidak membangun opini liar maka sebenarnya muda menemukan pemicu, pelaku dan korban”, begitu pesan pertamanya.

Menurut Natalius, beberapa versi yang muncul dapat menjadi bukti pentujuk untuk mencari apa sebenarnya yang terjadi maka akan dengan muda menemukan pemicu dan mencari solusi yang tepat.

“Semua informasi dan pernyataan cenderung membingungkan maka Saya meminta Pemda bentuk Tim  Gabungan Pencari Fakta Peristiwa Kiwirok khususnya Peristiwa yang menimpa Tenaga Kesehatan dan Kerusakan Rumah Sakit. Selanjutnya hasil TGPF disampaikan oleh Pemerintah”, ungkapnya.

Mengerucut pada catatan Natalius Pigay ini, dapat dibenarkan pada aspek politisnya karena jauh sebelum kepemimpinan yang ada, Pegunungan Bintang sempat disoroti media nasional dan lembaga Hukum dan HAM terkait dugaan Koruspi besar-besaran yang tidak pernah tuntas oleh Lembaga penegak hukum. Padahal, kasusnya telah dilaporkan berulang-ulang, baik di Komisi Pemberantasan Korupsi maupun di Polda Papua.

Problem hukum yang terjadi ini kemudian disusul momentum politik yang tensinya sangat tinggi pada waktu itu kemudian menghasilkan kepemimpinan baru dengan gaya yang tidak bisa berkompromi soal korupsi.

Pada sisi lain, jika mengacuh pada kerangka pikir dugaan Natalius Pigay ini, maka sangat mudah jika kelompok criminal bersenjata di Papua mengambil kesempatan dengan “sepercik api” yang telah nyala itu atau bisa disebut otak intelektual kekacauan Pegunungan Bintang mengkambinghihamkan Organisasi Kriminal Papua yang menentang NKRI selama ini.

Penulis: Freni Lutruntuhluy

Komentar