TNK Dalam Bayangan Kecaman Publik

Penulis: Tresia Naffi

Sebuah gambar dengan latar komodo yang menghadang sebuah truk sempat viral belakangan ini, diketahui adanya tiang pancang terlihat dalam muatannya. What has happened? Sebuah proyek pengembangan destinasi premium sedang dikembangkan. Jurassic Park.

Novelitas dari pembangunan mega proyek berimplikasi pada ketidak-seimbangan ekologi walaupun sektor ekonomi mengagung-agungkan potensi cadangan devisa. Lingkungan yang bersentuhan dengan ekonomi tidak selalu dilihat sebagai keuntungan semata.

Bukan rahasia umum bahwa alasan penguatan ekonomi mempertaruhkan lingkungan atas nama booster bagi kemakmuran. Bahkan sejatinya harus dikerjakan secara maksimal demi penambahan fasilitas, perluasan infrastruktur dan memperkuat sisi pemasaran. Apa yang diinginkan dari sebuah pembangunan mega destinasi wisata. Sejak dibuka pada 16 Maret 1980, Taman Nasional Komodo (TNK) ditujukan bagi kawasan Konservasi dan diresmikan oleh UNESCO sebagai salah satu situs warisan dunia pada tahun 1991.

Selain itu juga TNK mendapat gelar Cagar Manusia dan Biosfer. Kawasan konservasi TNK mencakup Pulau Komodo, Rinca dan Padar. Tujuan yang diharapkan dalam pembukaan TNK adalah pelestarian hewan purba, Varanus Komodoensis, disamping perlindungan keseluruhan keanekaragaman hayati termasuk bahari  yang ada di kawasan. Mungkin sudah ada kajian berkaitan Pembangunan Jurassic Park, entah. Patut disayangkan jika mendukung kemerosotan ekologi. Pertimbangan seperti apa yang diambil saat rencana besar yang diusung terhambat dengan retensi naturalis.

Pengembangan awal biasanya dilakukan dengan membabat habis vegetasi dasar berupa perdu dan tanaman endemik, berimbas pada hilangnya spesies di habitat aslinya. Aspek yang tidak kalah penting semacam pembukaan akses jalan dan transportasi darat, tentu mengarah pada kebisingan dan peningkatan polusi secara signifikan mengancam keberadaan spesies di kawasan. Bahkan falisiltas yang dibangun kebanyakan berbeda fungsi dengan daya dukung peruntukan suatu Taman Nasional.

Kekhawatiran baru muncul akibat perubahan struktur tanah, sistem resapan air serta erosi dan perubahan bentang alam akibat gerusan air hujan. Dampak yang berpotensi buruk, semakin menguatkan degradasi terkait penggunaan energi bahan bakar fosil, menumpuknya sampah yang menurunkan kualitas alami lingkungan. Pemikiran baru terkait penguatan pariwisata sebagai katalis devisa dengan mempertimbangkan aspek keseimbangan ekologi. Pro kontra melibatkan argumen akan tersingkirnya peradaban sosial budaya  dalam kecaman terhadap kepentingan investasi.

Mengenai terangkatnya pamor di tengah persaingan ecotourism. Walupun di kawasan lain ketenarannya bukan mewakili kekhususan setempat. Namun lagu baru yang mewakili environmentalist diketahui kurang menyetujui fokus langsung ekonomi di kawasan TNK. Masyarakat lebih memilih untuk mengadopsi keuntungan jangka pendek, pengaruh strategis dan pengembangan kawasan super mega premium, boleh saja memperhatikan perluasan dan kejayaan TNK sebagai ikon pariwisata nasional, bagaimana jika pengembangan destinasi di kawasan memberikan masing-masing peran yang saling mendukung bagi pemerataan kesejahteraan, its no comment! Stop pembangunan infrastruktur yang tidak ramah lingkungan dan jauh dari prinsip pengembangan pariwisata berkelanjutan. Sebaiknya perencanaan secara menyeluruh dan terpadu diupayakan dengan pemberian penataan yang lebih ramah ekologi, perlu mempertimbangkan kembalikonsep Rencana Induk Pengembangan Pariwisata. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *