Kami adalah Satu tubuh ! Komodo, Ata Modo dan Pulau Komodo

Oleh. Stevania Djawa*)

Suara hati dari Tanah Flobamora

Saya sebagai anak Nusa Tenggara Timur bangga dan terharu melihat kostum nasional bertema komodo yang dipakai oleh Miss Indonesia Ayu Maulida ke panggung ajang kecantikan bergengsi Miss Universe 2020. Saya rasa bukan tanpa maksud kostum itu menjadi kostum nasional mewakili negara kita. Ini semua merujuk pada icon hewan endemik purba yang hanya dapat ditemukan di Indonesia khususnya di Kabupaten Manggarai Barat NTT karena dianggap merupakan tempat atau habitat asli hewan endemik purba yang disebut Varanus Komodoensis.  Pulau Komodo dan Pulau Rinca merupakan tempat perlindungan satwa komodo yang sudah ditetapkan sebagai Taman Nasional sejak 1980 dan masuk dalam daftar Situs Warisan Dunia oleh UNESCO pada tahun 1991. Lebih dari itu, ada hal penting yang perlu diketahui bahwa komodo tidak terlepas dari habitatnya yaitu Tana Modo dan juga orang-orang yang berada disekitarnya yang disebut ata modo.

Belakangan ini, kawasan Pulau Komodo dan sekitarnya menjadi perbincangan apik dan hangat terkait penataan dan pembangunan sarana dan prasarana yang dikenal dengan sebutan Jurassic Park Komodo karena dianggap menjadi konflik adanya potensi pengurangan wilayah kelola masyarakat akibat pembangunan tersebut. Banyak pihak dan kalangan melihat proyek tersebut akan merusak habitat asli komodo dan menyingkirkan penduduk setempat dengan dalil kawasan konservasi. Disini yang menjadi perhatian bukan saja keamanan dan kelestarian komodo tetapi juga lingkungan dan masayarakat didalamnya.  Masyarakat yang sering menyebut diri mereka Ata Modo adalah penduduk asli dan lingkungan tempat mereka hidup bersama komodo yang disebut Tana Modo adalah hal-hal lain yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan komodo. Ata berasal dari kata ‘orang yang bermukim di hutan dan modo berasal dari kata ‘naga’. Dalam catatan sejarah dituliskan bahwa Ata Modo sudah hidup di pulau komodo sejak 2.000 tahun lalu. Selama ini aktivitas Ata Modo berjalan secara alami turun temurun dari generasi ke generasi, hidup berdampingan dengan kadal purba raksasa namun semenjak pembangunan infrastruktur yang disebut jurassic park ini, Ata Modo dan masyarakat lokal disekitarnya merasa banyak hal yang hilang bahkan tergusur dari kehidupan mereka. Ada kalanya ketika Ata Modo berburu,  mereka tidak lupa untuk membagikan hasil perburuan mereka pada komodo, sungguh hubungan yang sangat elok. Mereka berpikir bahwa pembangunan TNK Komodo saat ini yang ditujukan untuk area konservasi, area wisata Jurrasic park dan area tempat penginapan dan tempat makan sepertinya telah mengambil harta berharga mereka yaitu kebiasaan atau interaksi yang selama ini telah berlangsung.

Dari beberapa artikel yang sempat saya baca ditemukan beberapa poin penting semacam penggusuran atau pengikisan hak-hak masyarakat tersebut seperti :

  1. Tergusurnya nilai-nilai budaya yang sudah menjadi warisan dari zaman leluhur. Interaksi komodo dan masyarakat lokal yang dahulu tanpa sekat bermodalkan kayu kini terhalang oleh baja-baja pembatas. Secara langsung ini merusak siklus interaksi dan rantai hidup alami antara Komodo, Ata Modo dan Tana Modo.
  2. Perubahan pola mata pencaharian masyarakat komodo. Hal ini dirasakan dalam kurun waktu kurang dari 30 tahun, kebiasaan mereka dengan alam seperti berburu, meramu, berkebun, bertani, bahkan kebiasaan sebagai nelayan kini tinggal menghitung jari dan beralih menjadi pematung atau penjual souvenir.

Secara tidak langsung ini sudah merubah pola kebiasaan dan secara sadar menghilangkan nilai-nilai tradisi juga hak ata modo atas karya, budaya dan lingkungan hidup bebas.

  1. Pembangunan Taman Nasional Komodo terus berjalan, hal lain yang perlu dipikirkan adalah dampak baru yang disebabkan dari pembangunan infrastruktur ini seperti wilayah atau lahan masyarakat yang semakin sempit. Potensi berkurangnya wilayah kelola masyarakat sudah pasti terjadi. Ini seperti menciptakan perang dalam perebutan sumber daya, seperti contoh kehilangan sekitar 151,9 hektar lahan perkebunan masyarakat yang dijadikan salah satu lokasi pembangunan. Masyarakat merasa dirugikan, yang memiliki modal besar pastinya akan mendapatkan keuntungan dari peristiwa ini, bagaimana dengan masyarakat kecil? Masyarakat lokal yang hidupnya hanya bergantung pada laut, tanah dan debu?
  2. Kehadiran perusahaan-perusahaan swasta menghilangkan serpihan harapan masayarakat lokal yang ingin turut merasakan keuntungan dari kehadiran TNK seperti membangun usaha penginapan, usaha tour guide, usaha penyewaan kapal, dan lain-lain

Suara hati saya dan warga NTT yang turut memberikan perhatian atas pembangunan TNK yang telah berjalan ini, memohon kepada Pemerintah untuk memperhatikan hal-hal berikut :

  1. Tetap mengedepankan nilai-nilai konservasi, ekologi dan nilai kemanusiaan yang sudah menjadi darah daging dalam kehidupan Komodo, Ata Modo dan tana Modo. Mereka adalah satu tubuh memiliki kepala, tangan dan kaki. Apalah artinya tubuh tanpa kepala, tangan dan kaki? Pastinya tubuh itu cacat. Begitu juga dengan habitat dan lingkungan komodo, mereka saling membutuhkan, mereka saling melengkapi, mereka adalah satu tubuh, tanpa salah satu maka ekosistem itu akan cacat.
  2. Pembangunan TNK atau Jurrasic Park ini harus benar-benar memberikan manfaat dan nilai baru yang dapat dirasakan oleh komodo juga masyarakat dan lingkungan didalamnya. Keseimbangan alam dan kehidupan Komodo juga Ata Modo harus tetap terjaga, ini bukan soal kelestarian komodo saja tetapi menyangkut tradisi, hak-hak dan nilai-nilai yang selama ini sudah ada dan dijunjung tinggi di pulau Komodo.
  3. Memberdayakan Ata Modo, dalam hal ini warga lokal dan masyarakat di sekitar Pulau Komodo dan Pulau Rinca.
  4. Menjaga warisan budaya dengan tetap memperlihatkan dan memperkenalkan ciri khas dan kekayaan lokal masyarakat sekitar untuk menjadi nilai jual bagi para wisatawan
  5. Perlunya dibentuk kader konservasi untuk turut membantu mengelola dalam mensosialisasikan peraturan dan penyadaran fungsi-fungsi konservasi kawasan. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *