Komodo Terjepit Diantara Green Energy dan Ecotourism

Oleh. Marlon Jacob, ST*)

Pandemi memberi banyak peluang dan sekaligus tantangan. Memperhatikan sudut perekonomian yang bersendi pada pemanfaatan sumber daya, banyak bidang yang diketahui menyumbang devisa dengan nominal yang tidak sedikit. Salah satu diantaranya adalah sektor pariwisata, melihat banyak keunggulan seakan tidak habis-habisnya untuk menemukan dan menjelajahi dunia baru.

Konsep perjalanan yang memperkenalkan lebih dalam ke pesona dan keistimewaan latar bahkan bentang alam. Sudut pandang yang saya kemukakan disini nanti akan menjurus ke khazanah pariwisata yang lebih ke arah ekowisata, katakanlah anda diperhadapkan pada meja hidangan, dan menu yang lagi trending adalah apa yang disebut sebelumnya.

Menelusuri kegiatan yang bertanggung-jawab terhadap alam, yang diharapkan dapat memberikan kesadaran baru bagi kepedulian terhadap lingkungan. Disadari bahwa keindahan Indonesia tidak terbatas dalam urutan ke sekian dalam peta pariwisata dunia. Menengok bagian Selatan Nusantara, kekaguman akan panorama dan bentangan the one and only menarik untuk disajikan. Terletak di bagian tengah dari pemilahan vegetasi, keunikan dan dinamika alam yang terbentuk selama ribuan tahun menghadirkan pesona dalam sebuah kawasan yang mendominasi The New Seven Wonders era 2000an.

Bangga dengan semboyan Wonderful Indonesia dengan suatu spesies hewan yang pernah mengukir nilai pecahan dalam bentuk koin lima puluh Rupiah di antara 1991-1996. Selamat datang di kawasan Taman Nasional Komodo (TNK). Banyak kajian dan tulisan memuat segala ikhwal tentang komodo, baik itu dari dalam negeri maupun yang sudah tersimpan jauh dalam perpustakaan yang berada di negara lain.

Kembali pada persoalan lingkungan, tentu banyak yang mengharapkan agar krisis ekologi dapat dimaknai dan perlu disiasati secara bijaksana. Kaitan dengan pariwisata, lokasi yang viral di jagad maya memunculkan kegairahan baru para travelers untuk menghabiskan waktu dan sumber daya yang dimiliki sekadar untuk menikmati suguhan alam atau bahkan hanya menggunakannya sebagai meeting venue. Selanjutnya yang kurang dipahami adalah management lingkungan yang lebih banyak berfokus karena ada keuntungan ekonomi yang porsinya hampir menenggelamkan rencana pariwisata berkelanjutan.

Salah satu segi yang menjadi ranah lirikan, sebut saja strategi pemanfaatan energi yang ramah lingkungan. Pandemi Global mengajari bumi dan penduduknya untuk memprioritaskan lingkungan, bagaimana kelestarian itu dibangun dengan selalu waspada akan peningkatan suhu bumi yang selalu signifikan kenaikannya dari tahun ke tahun. Bahan bakar fosil seyogyanya mulai dikurangi bahkan dieliminasi dalam proyeksi sumber energi masa depan. Mau dikemanakah arus pemanfaatan energi. Di satu pihak kesadaran bahwa penyumbang terbesar dalam emisi gas rumah kaca adalah penggunaan bahan bakar fosil dalam sektor transportasi dan penggunaan energi.

Di kawasan TNK, tentu masih teramat jauh dari efek buruk yang ditimbulkan oleh bencana pemanasan global dimaksud. Keindahan dan daya dukung hayati memberikan kedamaian tersendiri bagi pelancong. Namun, sampai kapan hal ini bisa dipertahankan. Kita menginginkan suatu TNK yang sama ketika dikunjungi pada tahun 2021 akan masih tetap alamiah setelah dua puluh bahkan lima puluh tahun kedepan. Pepatah lama yang saya ingat bahwa, kita bisa melarang  burung terbang di atas kepala kita, namun kita tidak dapat mengijinkannya untuk bersarang di atas kepala kita, demikian gambaran dari fenomena apa yang mungkin akan dihadapi beberapa generasi mendatang. Tidak mengharapkan jika alasan kebersihan dan keramah-tamahan penduduk sebagai indikator yang memuaskan para wisatawan, akhirnya berujung pada degradasi lingkungan akibat ulah dari perilaku yang tidak terkontrol dengan baik terhadap segala pelaku usaha perjalanan wisata ke TNK.

Jangan sampai sektor yang menjadi penyumbang devisa kedua bagi negara berbalik menjadi sektor yang dominan merusak lingkungan dan menjadi pelopor pemanasan global. Upaya ekonomi yang lebih kepada pemanfaatan tanpa batas terhadap keaneka-ragaman hayati dapat melemahkan upaya untuk mempertahankan kredibilitas lingkungan beserta dengan komponen yang mendiaminya, baik secara biotik maupun abiotik.

Kawasan TNK berpeluang bagi pemanfaatan energi baru terbarukan, dan membutuhkan keseriusan juga dalam rencana pemanfaatannya. Upaya awal dalam memperkenalkan suatu kawasan yang lebih ramah lingkungan dengan jalan edukasi yang dapat dilakukan dengan menyediakan kawasan khusus untuk transportasi bebas bahan bakar fosil. Penyediaan sarana dan prasarana yang mendukung upaya konservasi energi.

Dengan berfokus juga terhadap kaum milenial, yang mana dapat mengambil peran mereka untuk memudahkan sosialisasi, menyelenggarakan kegiatan yang memotivasi untuk beralih ke green energy. Meningkatkan partisipasi generasi penerus dengan memberikan kesempatan untuk magang pada kawasan TNK dengan tetap mempertimbangkan konsep keberlanjutan, dimana kaum muda secara aktif dilibatkan dalam kegiatan yang lebih berinovasi pada usaha kelestarian dengan pemanfaatan energi terbarukan. Katakanlah ada penggunaan energi surya secara massive disamping pemanfaatan lautan bagi energi termal dan energi mekanik, memungkinkan bagi pengelolaan yang ditujukan bagi efisiensi ekonomi dan investasi lingkungan jangka panjang. Energi untuk kehidupan yang lebih baik, menjadi prioritas dan pertimbangan akan keseimbangan alam perlu diawasi lebih ketat seriring dengan pembukaan kawasan bisnis yang menyediakan beragam hotel dan pusat perbelanjaan. Dampak transisi energi tetap menguntungkan dilihat dari peluang dari sektor yang menciptakan cukup besar lapangan kerja. Tidak kalah penting dipertimbangkan pula terkait jumlah satwa yang dapat dipertahankan dengan pemberlakuan green energi. Jangan sampai TNK kehilangan Komodo karena hal ini sudah menjadi warisan budaya dunia oleh UNESCO pada tahun 1991. Pelibatan masyarakat perlu ditingkatkan untuk berkolaborasi dan mengurangi kesenjangan. Intinya adalah Komodo dan manusia harus berimbang dalam manfaat yang diperoleh.

Pekerjaan rumah besar dalam ranah konservasi energi di kawasan TNK dapat dicapai dengan strategi mengembangkan teknologi baru untuk pengembangan energi baru dan terbarukan, pencapaiannya ditempuh dengan pengembangan teknologi dan inovasi peralatan/permesinan sarana transportasi untuk pemanfaatan biofuel, serta pengembangan teknologi dan inovasi pemanfaatan energi baru, sebagaimana termuat dalam salah satu strategi arah kebijakan 2020-2024 dalam mengadopsi salah satu Tujuan Pembangunan Berkelanjutan yang diperoleh dari Peta Jalan SDGs Indonesia yang diterbitkan oleh Kementerian PPN/Bappenas.

Penulis tinggal di Kupang, Ibukota Provinsi Nusa Tenggara Timur

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *