Jurnalis Rahmat diintimidasi, Senator Filep Akan Sambangi Kapolri

MEDIATIMOR.COM – Belakangan ini salah satu pengusaha asal Ternate Provinsi Maluku Utara bernama Haji Semi santer terdengar diperbincangkan banyak media. Pemberitaan yang berjudul,” Hi Semi Diduga Melanggar Undang-Udang No 17 Tahun 2008 Tentang Pelayaran yang dimuat Detik Indonesia.co.id tersebut

Sontak menjadi pembicaraan, Karena diketahui, Sejauh ini pengusaha bersangkutan tidak bisa menunjukkan izin Penggunaan garis pantai secara komprehensif. Perintah Undang-undang Kementerian Perhubungan seperti dicantumkan dalam undang-undang No. 17 Tahun 2008 Tentang Pelayaran belum juga digenggam olehnya.

Menurut keterangan pihak Haji Semi, pihak perusahan telah menyurati kementerian terkait menyangkut dengan izin tersebut, akan tetapi belum juga terakomodir surat dilayangkan untuk dimintai itu.

Kendati Demikian, pengunaan garis pantai untuk kegiatan tambat kapal bongkar muat barang di Pantai Daulasi Kecamatan Ternate Utara masih saja dilangsungkan hingga saat ini.

Akhirnya, mengundang berbagai tanggapan dari Anggota DPD RI maupun Anggota DPR RI Komisi V, tanggapan itu bermunculan langsung dari seorang Dr. Filep Wamafma Dan juga Syarief Abdullah Alkadrie,SH, MH akhir-akhir ini.

Akibat dari menyinggung Izin penggunaan garis pantai itu, berita yang ditulis oleh seorang Jurnalis Detik Indonesia.co.id bernama Rahmat Wijaya berujung intimidasi.

Perilaku serupa tidak hanya dipertunjukkan oleh Abdul Salam Tamaela Atau Haji Semi. perilaku seperti itupun diduga datang dari kuasa Hukum Haji Semi bernama Iksan Maujud SH.

Merebak kabar, Pengacara katanya konon baru mengangkat sumpah ini disinyalir kuat telah melakukan Intimidasi terhadap wartawan Detik Indonesia.co.id bernama Rahmat Wijaya.

Tindakan kian bersebrangan dengan hukum ini nampak kuat dipraktekkan Iksan Maujud ketika hendak menghubungi Rahmat melalui via telepon,(6/2/21) saat itu.

Didalam percakapan singkat, Iksan lantas memperkenalkan dirinya selaku kuasa hukum Haji Semi, dari balik telpon genggamnya, Iksan kemudian menghendaki meminta agar Rahmat bisa bertemu dengan dirinya sekarang ini.

“Saya haji Semi pe kuasa hukum, jadi saya ingin bilang p ente, lebih baik ente bakudapa dengan saya sekarang, “Begitulah bentuk ucapan Iksan ketika hendak menghubungi Rahmat.

Akan tetapi, pada kalimat berikutnya disaat percakapan sedang meruncing, Rahmat tersentak kaget seketika, sesudah Iksan mengungkapkan kalau Jurnalis bernama lengkap Rahmat Wijaya tersebut diincar oleh anak buah pengusaha besar bernama Haji Semi.

“Lebih baik saya amankan ente sekarang daripada anak-anak lain kase-kase dapa pak ente, supaya ente pe jaminan keselamatan itu ada pe saya”Singgung Iksan didalam perbincangan.

Lebih dibuat dikagetkan lagi, Iksan menguraikan siapa Haji Semi, setelah Rahmat menanyai siapa yang mengincar keselamatan dirinya sesudah Pemberitaan berjudul Hi Semi diduga melanggar Undang-undang No. 17 Tahun 2008 Tentang Pelayaran ditayangkan pekan itu.

“Sudah ngana so tahu Haji Semi p pasukan to, kalau ngana parentah diri ya saya tra urusan, sekarang ini saya lagi bikin laporan,” Papar dia melalui telpon genggamnya.

Perkataan Iksan tersebut tidak saja berkutat sampai disitu saja. Pria berprofesi sebagai kuasa hukum Haji Semi ini juga menyinggung Reserse Mobile(Resmob)

Seketika mendengar ucapan Iksan terkait keterlibatan satuan Resmob tersebut, Rahmat mengakui pada media bahwa dia dihantam ketakutan, sambil menyinggung dirinya bukan kriminal.” Ucap Rahmat ketika dimintai keterangan oleh awak media.

Menurut Rahamat tindakan mengintai keberadaannya, terus terang saja perlakuan tersebut telah menggerogoti hak asasinya sebagai manusia merdeka yang dilindungi oleh undang-undang dasar 1945 Negara Republik Indonesia.

Tak berselang lama kemudian, Iksan pun berkata pada Jurnalis diintai itu kalau keberadaannya saat itu sudah terpantau melalui alat Resmob, lantas untuk membuktikan omongannya, Iksan kemudian menunjukkan letak lokasi dimana saja Rahmat sempat berada.

“Ngana tadi malam itu sudah terpantau di semua Resmob-Resmob p alat itu, ngana p hp tadi malam kasi mati terakhir di Kalumpang to, ngana tadi malam juga sempat naik ke Tabahawa Jam 12 lewat, yang terakhir ngana telpon paitua ngana p arah masih di Tabahawa, itu juga terpantau, Itu Resmob samua ada pantau p ngana, dan dorang itu bertindak ktrada tergantung laporan dari saya trda,”Bigitulah ucap Iksan pada Rahmat.

Sementara itu, Anggota DPD RI Filep Wamafma selapas mendengar rekaman. Dirinya tersentak kaget seketika itu sesudah mendengar ucapan dipaparkan kuasa hukum Haji Semi kepada Rahmat melalui via telpon akhir-akhir itu.

Filep mengatakan, jika pengusaha bersangkutan melacak keberadaan si wartawan tersebut tentunya patut dipertanyakan tindakannya.

“Dia punya kewenangan apa dan dia punya sarana atau fasilitas apa hingga mampu mendeteksi Rahmat”Ujar Filep yang juga Ketua Pansus Papua itu.

Sambung kata Filep, apabila dia miliki fasilitas untuk mendeteksi, atau pelacakan ataupun memonitoring orang, disitu terselip Undang-undang kerahasiaan negara,” ungkap Filep kepada awak media. (10/2/21).

Menurut Filep, tidak serta-merta orang dibolehkan begitu saja menyadap ataupun melacak, lagian Rahamat bukan Kriminal, apalagi di ditambah pengusaha bersangkutan hanyalah menyandang status sebagai masyarakat sipil biasa yang tidak mengantongi otoritas ataupun kewenangan untuk menyadap, dibolehkan terkecuali dia melacak Istrinya”Ujar Senator yang juga vokal di komplek Senayan itu.

Kata Filep, penyadapan maupun pelacakan itu hanyalah diperuntukkan bagi pihak penegak hukum, apabila dia sipil, dia mengunakan teknologi apa hingga mengetahui keberadaan Rahmat dimana dan dimana, tentu ini merupakan hal yang tidak bisa benarkan dan bertentangan dengan hukum di negara tercinta kita Indonesia.”Tukasnya.

Lanjut kata Filep, Dia bertindak atas dasar apa hingga melakukan pelacakan seperti ini, lembaga sekelas KPK yang lahir dari institusi negara saja tidak akan melakukan penyadapan kepada siapapun, sebelum mendapatkan persetujuan dari pengawas, demikian juga dengan institusi-institusi lain.

“Dia itu sebagai apa hingga dia melakukan hal semacam ini, atau mungkin saja dia menggunakan fasilitas kepolisian untuk melakukan penyadapan,”Tegas Filep.

Seturut dengan hal itu, Filep sebelum menutup pembicaraannya di telpon, ia dengan nada lantangnya menyatakan, bahwasanya, menjelang beberapa hari kedapan nanti, dia akan menyambangi Kapolri, sekaligus membicarakan terkait Intimidasi yang sudah terjadi pada wartawan bernama Rahamat Wijaya. Perlakuan intimidasi tersebut disinyalir sudah mempergunakan fasilitas institusi hukum,”Ujar Filep. (*)

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *