oleh

Minta Jatah Menteri Menciderai Martabat Bangsa Maluku

MALUKU TIDAK BUTUH MENTERI, TAPI BUTUH AKSELERASI PEMBANGUNAN DAN KEADILAN NEGARA

Akhir-akhir ini medsos di kalangan grup grup masyarakat Maluku, dipenuhi dengan keinginan sekelompok orang bahkan wadah tertentu agar jabatan Menteri KKP berasal dari anak Maluku. Ini fenomena yang biasa dan sah sah saja, dalam dinamika pembangunan ekonomi dan pembangunan politik.

Akan tetapi saya melihat dari perspektif yang berbeda, yaitu upaya bahkan usulan-usulan anak Maluku menjadi Menteri KKP menggantikan Edhy Prabowo yg tersandung kasus korupsi ini bukan sesuatu hal yg positif bagi Maluku, karena kita tidak bisa berharap terlalu banyak untuk Maluku ada diperhitungkan pada posisi ini.

Hal yang lain yg patut kita ingat bahwa dengan posisi menteri anak Maluku apakah sudah bisa menjawab semua permasalahan Maluku saat ini yg sangat komplikasi ini.?. Bagi saya jawabannya tidak dan itu saya yakin sungguh tidak akan terjadi.

Maluku hari ini tidak butuh jabatan Menteri, tetapi Maluku butuh akselerasi pembangunan yang nyata dan signifikan melalui political Will pemerintah pusat dengan memberikan ruang yang lebih besar kepada Maluku untuk melakukan aktivitas pembangunan di Maluku dengan instrumen regulasi yang tepat.

Justru pada titik ini, organ-organ masyarakat Maluku dan elit politik malah diam seribu bahasa, dan cendrung menerima kondisi yg ada sebagaimana ada saat ini. Seharusnya kita bersuara lantang bukan untuk memperjuangkan individual tertentu untuk jabatan Menteri, tetapi justru kita harus bersuara lantang untuk memperjuangkan ketimpangan pembangunan yg dirasakan oleh masyarakat Maluku saat ini, melakui keperpihakan regulasi pempus.

Kita bangsa Siwalima ini jangan sampai terjebak dalam bingkai berpikir yang gagal dan misorientasi dalam melihat kondisi Maluku hari ini dan yang akan datang. Marginalisasi Maluku dan ketertinggalan pembangunan serta diskrimanasi yang ada saat ini, adalah realitas sosial, politik dan ekonomi Maluku yang harus kita sadari bersama dan diperjuangkan bersama. Kesadaran kolektif ini menjadi sangat penting jika Maluku ingin bangkit dan keluar dari berbagai keterbelakangan dan stigmanisasi negatif yang selalu dilebeling kepada orang Maluku bangsa Siwalima.

Saya sekedar ingatkan saja bahwa suka atau tidak suka, Maluku hari ini berada dalam ancaman serius kemiskinan struktural yang semakin kuat, dan krisis multidimensi di Maluku yang diindikasikan dengan lemahnya persatuan sikap, ucapan dan tindakan orang-orang Maluku; kekaburan atas realitas sejarah dan budaya bangsa Maluku sendiri; tingginya Evoria kejayaan Maluku pada masa lalu yang menutupi realitas berpikir kita hari ini tentang Maluku; terjadinya banyak perbedaan persepsi tentang arah pembangunan dan masa depan Maluku; lambannya roda perekonomian Maluku, sebagai akibat kebijakan pembangunan yang kurang tepat sasaran; lemahnya konektivitas antar pulau, wilayah antar desa di Maluku; dan mentalitas amtenar atau priyayi dikalangan orang Maluku sendiri.

MALUKU BANGSA BERADAB, BUKAN BANGSA PEMINTA-MINTA 

Saya ingin berbagi pemahaman bahwa Suatu masyarakat yang selalu meminta ini dan meminta itu adalah ciri masyarakat perbudakan yang gagal dan terus ada dalam kemiskinan dan keterbelakangan. Sebaliknya masyarakat yang maju dan sejahtera adalah masyarakat pekerja, pejuang, masyarakat yang percaya diri dan rasional, karena sebagai masyarakat pejuang pasti memiliki daya juang dan etos kerja atau semangat kerja yang kuat dansudah terbentuk maka mereka pasti mencapai kemajuan yang sangat berarti.

Alasannya sangat sangat sederhana. Jepang adalah negara yang fakir sumber daya alam tetapi menjadi negara maju yang diperhitungkan dunia global. Demikian sebaliknya Indonesia sebagai negara yang kaya raya sumber daya alamnya, tetapi sangat dekat dengan kemiskinan, dan terus ada dalam stigma negara berkembang.

Secara mikro Maluku adalah wilayah yang kaya SDA dalam bahasa sastra di katakan Negeri yang penuh dengan susu dan madu, namun lagi-lagi stigma kemiskinan dan keterbelakangan menjadi trending topik dalam berbagai pidato dan retorika, bahkan diskusi rumah kopi. Sebaliknya Bali adalah wilayah yang fakir SDA tetapi menjadi daerah yang maju dan perkembangan ekonomi yg pesat.

Ini adalah kebenaran yang harus dipahami dan diakui. Jika mayoritas masyarakat suatu daerah masih memiliki mental PEMINTA atau MINTA-MINTA maka jangan pernah mereka bermimpi menjadi daerah yang maju dan diperhitungkan, sekalipun daerah itu kaya-raya SDA nya. Alasannya adalah karena mindset atau mental masyarakat yang sudah terbentuk adalah sebagai PEMINTA.

Masyarakat yang suka meminta selalu mengharapkan sedekah dan perhatian, empati dari orang lain. Jika tidak diperhatikan maka ada ketersinggungan sosial, ekonomi bahkan politik. Sebaliknya masyarakat pekerja mereka tidak pernah meminta sedekah atau meminta perhatian, empati dari orang lain tetapi justru mereka memberikan sedekah dan memberikan empati kepada orang lain, padahal SDA nya sangat rendah.

Jadi masalah PEMINTA dan PEKERJA, masalah MISKIN ata MAJU, bukan diukur dari seberapa besar daerah itu memiliki kekayaan SDA yang besar atau tidak, tetapi sangat di tentukan oleh CARA BERPIKIR dan MENTALITAS yang terbentuk dalam setiap pribadi masyarakat yang ada di wilayah itu. SDA yang melimpah tetapi masyarakatnya berada dalam kemiskinan dan keterbelakangan yang serius apa arti semua itu. Sehingga kemajuan suatu daerah tidak bisa diukur dengan kepemilikan SDA yang melimpah. Kondisi Maluku saat ini sudah menjawab asumsi di atas.

Pertanyaan kritis saya buat kita semua masyarakat Maluku posisi kita ada di mana sebagai masyarakat PEMINTA atau PEKERJA pilihan itu ada pada kita semua. Masing-masing pilihan memiliki KONSEKUENSI logis tersendiri. Dan pilihan itu akan diputuskan oleh OTORITAS kekuasaan di daerah masing-masing dan semua stakeholders yang ada di dalamnya.

Kalau pilihan itu adalah PEMINTA berati kita melegitimasi kan KEMISKINAN dan KETERBELAKANGAN dalam jangka panjang dan itu berarti pengambil keputusan seperti itu perlu DIREVISI BANGUNAN BERPIKIRNYA. Jika pilihan yang diambil adalah masyarakat PEKERJA maka mereka memiliki ROH dan VISI yang sama dengan saya. Visi pekerja akan mendorong setiap individu orang Maluku untuk berpacu dalam pembangunan secara sehat dan tertanggung jawab berdasarkan keinginan bersama bangsa Siwalima untuk memajukan Maluku dari semua aspek dan semua perspektif pandang.

Semoga Bermanfaat

Komentar