oleh

Ada Baliho Tolak Amdal Blok Masela Saat Gubernur Murad ke MBD

TIAKUR, MEDIATIMOR.COM – Sebuah baliho berukuran besar dibentangkan di dalam kota Tiakur bertepatan dengan kunjungan Gubernur Maluku Murad Ismail. Spanduk itu bertuliskan masyarakat adat maluku barat daya menolak amdal blok masela.
Masyarakat menolak dikarenakan tidak sesuai dengan kaidah ilmiah sekaligus menuntut rakyat MBD harus dilibatkan sebagai daerah terdampak.

Selain itu juga seruan yang dutujukan bertepatan dengan hadirnya gubernur Murad ini meminta agar Impex harus membangun fasilitas Balai Latihan Kerja bertaraf internasional di Maluku Barat Daya serta memprioritaskan tenaga kerja asal MBD.

Spanduk itu sekaligus menegaskan aspirasi mereka terkait aksi demo yang dilakukan di depan kantor gubernur maluku beberapa waktu lalu.

Selain itu, informasi yang diperoleh media timor, surat permintaan melakukan aksi demonstrasi dengan hadiranya gubernur Murad ini juga telah diserahkan kepada pihak kepolisian, namun entah apa persoalannya sehingga aksi itu tidak dilakukan.

Beny Kelabora kepada media timor senin 30 november 2020 sebagai perwakilan dari Pemaskebar juga sebagai tokoh asal Babar menyayangkan situasi itu. Selain itu juga Tokoh MBD, Prof. Watloli dari Itamalda ikut mendukung agar protes rakyat MBD itu harus dilakukan karena bertepatan dengan kedatangan Gubernur ke Maluku Barat Daya.

Menurutnya, rencana itu hendaknya dilakukan dengan alasan aksi demonstrasi rakyat MBD soal blok masela di Ambon tidak mendapat tanggapan serius dari Gubernur Murad Ismail.

Beredar kabar, blok migas masela ini sarat muatan politik dan kaitannya dengan pilkada di Maluku Barat daya, sehingga persoalan blok masela menjadi isu seksi untuk memenangkan calon-calon tertentu. Sebut saja, di sosial media ramai dibicarakan tidak sejalan Gubernur Maluku sebagai orang PDIP dan wakil gubernur Maluku yang mendukung adiknya yang tidak di usung PDIP, sehinga kedatangan gubernur maluku dengan maksud melakukan kunjungan kerja disambut dengan penolakan amdal Blok migas masela.

Penulis/Editor: Freni Lutrun

Komentar