Ditengah Persoalan Covid 19, GMKI Dituntut Berinovasi

KALABAHI, MEDIATIMOR.COM – Perubahan tatanan kehidupan yang memasuki era new normal tidak dapat dipungkiri, memberikan pengaruh terhadap pergeseran atau penyesuaian sistem organisasi. Penyesuaian dibutuhkan agar dapat menjawab kebutuhan organisasi secara umum dan juga kepada anggota. Hal ini disampaikan Natalia Mahudin, Bendum Pengurus Pusat GMKI dalam acara Konsultasi Wilayah VII GMKI di Kalabahi, Nusa Tenggara Timur.

Untuk itu, kata dia, GMKI senantiasa dituntut untuk melakukan penyesuaian terhadap perubahan tatanan kehidupan. GMKI yang memegang penuh nila-nilai sebagai sebuah historis budaya untuk terus bergerak dan menghidupi organisasi di setiap generasinya harus juga menyesuaikan dengan tuntutan perubaham tanpa meninggalkan nilai nilai mendasarnya.

“Di tengah badai pandemi covid 19, organisasi GMKI dituntut untuk terus berinovasi agar kelangsungan organisasi tetap berjalan dalam suatu kondisi yang tidak normal atau force majeure,” ujar natalia.

Dikatakan dia, beberapa pengaruh yang terjadi akibat dampak pandemi covid 19 bagi organisasi diantaranya terbatasnya aktivitas organisasi. Misalnya dalam pengaktualisasian panca kegiatan GMKI seperti kegiatan-kegiatan yang dilakukan diantaranya beribadah/ berdoa, belajar, bersaksi, bersosial, dan berkreasi.

Ia membeberkan, banyak agenda yang mengalami penyesuaian. Padahal sebelumnya sudah direncanakan sesuai dengan waktu dan target pencapaian. Tentu hal ini kata dia merupakan tantangan yang berdampak pada keberlangsungan organisasi kemahasiswaan.

Menurut Koordinator Wilayah VII, Mecky Suni terdapat beberapa catatat yang lahir dalam forum diskusi pada saat berlangsungnya agenda konsultasi wilayah diantaranya adalah bahwa kekuatan terbesar GMKI terletak pada dasar dan sistem pola manajemen internal organiasi. Baik itu budaya yang tertuang untuk mewujudkan visi misi, sistem maupun mekanisme kerja.

“Identifikasi hambatan dan kendala pada internal organisasi membantu GMKI untuk dapat melihat, menganalisis, mengukur sejauh mana, seberapa kuat kemampuan organiasi untuk dapat mencapai medan layanan yaitu Gereja, Perguruan Tinggi dan Masyarakat di tengah-tengah perubahan saat ini yang tidak dapat dihindari,” ucap Mecky.

Menyesuaikan diri dengan lingkungan eksternal, dan berintegrasi dengan lingkungan internal merupakan satu komparasi yang dibutuhkan oleh organisasi pergerakan saaat ini. Mulai dari dampaknya pada individu anggota organisasi sampai pada organisasi keseluruhan.

Lebih jauh, Natalia mengatakan, GMKI perlu memilah dan memastikan bahwa kerja-kerja kedepan harus diposisikan dengan sebaik mungkin. Karena dalam penerapannya tidak hanya secara sistem atau kolektif tetapi juga anggota organisasi bisa lebih siap dalam melaksanakannya.

“GMKI harus ikut mentransformasi diri mengambil kesempatan dan peluang yang terjadi di tengah pandemi ini dalam rangka menjaga marwah organisasi, eksistensi organisasi dan percepatan digitalisasi organisasi sebagai kemajuan yang harus dilakukan,” tegasnya.

“Tentunya tantangan yang dihadapi oleh GMKI sebagai organisasi mahasiswa di tengah tekanan pandemi covid 19 selalu ada feedback positif yang dapat menjadi peluang bagi perkembangan organisasi kedepan,” pungkasnya.

Adanya penerapan model aktivitas melalui online, tidak membuat targetan aktivitas pelayanan menjadi monoton dan dapat menyentuh seluruh lapisan tanpa ada batasan sosial. Penggunaan teknologi dalam pelaksanaan tugas dan tanggung jawab pada organisasi, juga dapat menimbulkan kreativitas dalam mengembangkan pengetahuan yang dimiliki.

Kata dia, GMKI hidup dalam konteks saat ini, budaya organisasi ini harus dipelihara sebagai usaha yang akan mampu melewati ruang dan waktu, serta tidak akan hilang dimakan waktu. GMKI harus tetap bergerak di segala masa dan segala zaman. Aktivitasnya haruslah kreatif dan inovatif termasuk di era saat ini guna untuk memperkenalkan identitas.

“Identifikasi karakter dari target yaitu generasi milenial merupakan basis juga harus tetap ditingkatkan. Generasi ini merupakan generasi yang tidak dapat dihindarkan. Apabila dibenturkan aktivitas yang tradisional, maka akan terjadi penolakan dari generasi milenial,” ujar Natalia.

Namun, bila dimodifikasi untuk sesuai dengan generasi saat ini, maka ia akan menjadi peluang.

Lebih lanjut oleh Sdr Mecky Suni berharap bahwa menutup proses diskusi yang berlangsung “Organisasi harus harus siap dan fleksibel tanpa meninggalkan nilai nilai mendasarnya, sebab ada kerja-kerja yang bisa digantikan dan tak tergantikan. Organisasi yang sukses adalah organisasi yang siap dengan perubahan, artinya setiap perubahan yang terjadi akibat pandemi covid 19 organisasi pun harus mampu menyesuaikannya,”. (red)

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: