Tanggapi Konflik Tanah di TTS, Ardy Mbalembout: Presiden Jangan Tutup Mata, Tutup Telinga

KUPANG, MEDIATIMOR.COM – Sengketa antara masyarakat adat Pubabu, Besipae, Kabupaten Timor Tengah Selatan, Nusa Tenggara Timur dengan pemerintah daerah tak kunjung surut.

Sengketa yang antara kedua belah pihak tersebut menyebabkan masyarakat adat Pubabu tergusur dari tanah leluhurnya. Penggusuran pertama terjadi pada 4 Agustus 2020 dan yang paling anyar pada 13 Agustus 2020.

Merespon sengketa tersebut, tokoh muda NTT di Jakarta Ardy Mbalembout angkat bicara.

Menurut politisi Partai Demokrat itu, Presiden sebagai kepala negara sudah semestinya turun tangan mengatasi persengketaan antara masyarakat adat dan pemerintah daerah.

Ia menilai presiden seolah-olah mengabaikan persoalan yang sedang dialami oleh masyarakat adat Pubabu.

“Jangan presiden pakai pakaian adat kerajaan nenek moyang NTT tapi tutup mata tutup telinga atas kerusakan dan perampasan yang terjadi atas tanah masyarakat adat di NTT,” kata Ardy tegas.

Presiden Joko Widodo sendiri, seperti diketahui, menggunakan pakaian adat Timor Tengah Selatan saat menjadi Inspektur Upacara Detik-Detik Proklamasi Kemerdekaan RI di Istana Merdeka, Jakarta, Senin (17/8/2020).

Menurut Ardy, dengan mengenakan pakaian kebesaran masyarakat Timor Tengah Selatan, presiden seharusnya mampu menjadi pelindung masyarakat tertindas.

“Demikian harap dipahami dengan jernih. Silahkan mensejahterakan warga NTT tapi dengan tidak merusak peradaban manusia dengan berlindung di balik baju adat kerajaan nenek moyang orang NTT,” tandas Ardy.

Seperti diketahui Jokowi mengenakan kain motif kaif berantai nunkolo. Motif sudah dimodifikasi dari bentuk belah ketupat atau motif geometris dengan batang tengah.

Motif tersebut memiliki arti sebagai sumber air dan bagian pinggir bergerigi melambangkan wilayah yang berbukit dan berkelok-kelok. Warna merah melambangkan keberanian laki-laki nunkolo.

(Penulis: MT-Djolan)

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: