oleh

Tokoh Papua Soalkan Dana Otsus: Yang Salah Siapa?

Jakarta, MEDIATIMOR.COM – Tokoh Papua Barat, Willy Hegemur angkat bicara terkait penggunaan dana otonomi khusus (otsus) Papua yang dinilai tidak banyak memberikan dampak signifikan bagi kesejahteraan masyarakat Papua.

“Terus terang, bicara dana otsus Papua ini kan tidak bisa hanya melihat cerita di ujung. Ini kan persoalannya panjang. Harus ditarik ke belakang, menimbang perjalanan dana otsus yang memakan waktu sudah hampir 17 tahun,” kata Willy kepada wartawan, Jakarta, Selasa (26/11/2019).

Pernyataan itu diutarakan Willy dalam merespons wacana penghentian dana otsus Papua di tahun 2021 mendatang.

Aktivis senior yang dikenal vokal membicarakan permasalahan Papua ini menilai, salah satu kelemahan di balik ketidakjelasan penggunaan dan pemanfaatan dana otsus Papua terletak pada mekanisme pengawasan dan evaluasinya.

“Kita tahu bersama bahwa penggunaan dana ostsus Papua selama ini tidak memiliki mekanisme monitoring dan evaluasi yang jelas dari pemerintah pusat. Implikasinya tidak ada pelaporan penyerapan anggaran yang bisa dipertanggungjawabkan secara ketat oleh pemerintah daerah ke pusat,” tutur Willy.

Apalagi, kata dia, pemerintah pusat baru mulai menyadari ada permasalahan serius di balik pemanfaatan dana yang besar ini setelah muncul sejumlah persoalan seperti gizi buruk maupun rendahnya tingkat pendidikan di Papua.

“Jika baru sekarang pemerintah pusat menyadari itu, pertanyaannya, lah terus selama ini mereka (pemerintah pusat –red) dimana?,” tanya Willy.

Menurutnya, pemerintah pusat seharusnya punya kerangka monitoring dan evaluasi yang jelas saat pertama kali dana otsus digulirkan.

“Mengapa itu penting? Agar setiap tahunnya pemerintah dapat mengevaluasi efektivitas dari penggunaan anggaran otsus tersebut. Kalau begini, kan ibarat nasi sudah jadi bubur, lalu siapa yang mau kita salahkan?” ujar dia.

Willy juga mengritik pemerintah dalam hal pemberian dana otsus ini, yang menurutnya seperti seseorang yang sedang ingin memberikan permen ke anak kecil.

“Kalau kita mengibaratkan dana otsus ini kan seperti orang mau kasih permen. Kalau gak dikasih nangis. Giliran sudah dikasih diam, seolah tidak ada pertanggungjawaban. Padahal ini kan uang negara (publik) yang sudah otomatis membutuhkan pertanggungjawaban jelas,” paparnya. (Haris).

Komentar